Mengenang Pak Harto dan Bu Tien di Dalem Kalitan Solo

Tag

,

Di pendopo Dalem Kalitan (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Siapa yang tidak kenal Dalem Kalitan? Pada era Orde Baru, tempat itu cukup populer. Ya, itu adalah tempat Presiden Soeharto (saat masih berkuasa) dan keluarganya beristirahat ketika berkunjung ke Solo. Pak Harto, Bu Tien dan keluarganya tidak pernah menginap di hotel selama berada di Solo kecuali di Dalem Kalitan.

Sabtu, 26 Mei 2012 saya bersama anak dan istri berkunjung ke Dalem Kalitan. Jarak bangunan tua bergaya limas atau joglo yang dibangun pada tahun 1789 itu dari tempat tinggal saya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 5 km. Saya pun sering melewati jalanan di depan Dalem Kalitan.

Dalem Kalitan terletak di Kampung Kalitan Kelurahan Penumping Kecamatan Laweyan Solo, atau bersebelahan dengan Solo Paragon yang merupakan bangunan tertinggi di Solo. Baca lebih lanjut

Tugu Lilin Solo yang Bersejarah

Tag

,

Tugu Lilin Pajang (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, nama Tugu Lilin tentu tidak asing lagi. Tugu tersebut terletak di Kelurahan Pajang Kecamatan Laweyan. Persisnya berada di pertigaan Pajang pertemuan Jl. Joko Tingkir, Jl. Dr Radjiman dan Jl. Slamet Riyadi Makamhaji, perbatasan Solo dan Kartasura. Rumah, pertokoan, perkantoran dan warung di sekitar Tugu Lilin menjadikan nama atau menambahkan nama itu sebagai alamat. Misalnya, Apotek Tugu Lilin, Mie Ayam Tugu Lilin atau Toko Besi Tugu Lilin.

Namun, Tugu Lilin Pajang itu tidak punya nilai historis. Tugu Lilin di Solo yang memiliki nilai sejarah, meskipun tidak terlalu populer adalah Tugu Lilin yang terletak di Kelurahan Penumping Kecamatan Laweyan. Tugu itu dibangun pada tahun 1933 bertepatan dengan peringatan 25 tahun Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 20 Mei sejak berdirinya Boedi Oetomo. Sebagaimana tertulis di prasasti Tugu Lilin Penumping, pembangunan tugu tersebut untuk Peringatan Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Baca lebih lanjut

Gesang Dalam Kenangan Tahun Kedua

Tag

,

Baliho Gesang dalam Kenangan

Jumat-Sabtu, 19-20 Mei 2012 di Joglo Sriwedari Solo digelar acara “Gesang Dalam Kenangan” dalam rangka haul Mbah Gesang yang kedua. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Haul berarti peringatan hari wafat seseorang yang diadakan setahun sekali. Orang Jawa menyebutnya “Mendhak”.

Mbah Gesang yang nama lengkapnya Gesang Martohartono lahir di Solo pada 1 Oktober 1917. Beliau meninggal dunia saat berusia 92 tahun pada 20 Mei 2010. Semasa hidupnya, beliau dikenal sebagai penyanyi dan pencipta lagu yang mendapat julukan Maestro Keroncong Indonesia. Mbah Gesang mendunia lewat lagu Bengawan Solo. Lagu itu telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa asing.

Gesang artinya hidup. Karena itu, lagu-lagu yang diciptakan Mbah Gesang berisi semangat untuk maju memuliakan kehidupan. Di antara lagu-lagu ciptaannya adalah Bengawan Solo, Jembatan Merah, Pamitan, Caping Gunung, Ali-ali, Andheng-andheng, Luntur, Dongengan, Saputangan, Dunia Berdamai, Si Piatu, Nusul, Nawala, Roda Dunia, Tembok Besar, Seto Ohashi, Pandanwangi, Impenku, Kalung Mutiara, Pemuda Dewasa, Borobudur, Tirtonadi, Sandhang Pangan dan Kacu-kacu. Baca lebih lanjut

Nostalgia Masa Kecil di Festival Dolanan Bocah Solo 2012

Tag

,

Baliho Festival Dolanan Bocah Solo 2012

Selama tiga malam berturut-turut, Jumat-Minggu, 18-20 Mei 2012 masyarakat Solo dan sekitarnya disuguhi tontonan menarik yang dapat membuat mereka bernostalgia masa kecil. Mereka bisa mengenang saat bermain atau dolanan dulu waktu kanak-kanak. Tontonan itu dikemas dalam kegiatan yang bernama Festival Dolanan Bocah Solo 2012 di Plaza Taman Wisata Budaya Sriwedari.

Sabtu Malam, 19 Mei 2012 saya bersama anak dan istri datang ke tempat hiburan yang berada di seberang Pengadilan Negeri Surakarta, Jl. Slamet Riyadi itu. Tampak sekitar 30 anak sedang menari dan bermain di atas panggung sambil menyanyikan lagu Cublak-cublak suweng.

Cublak-cublak suweng
Suwenge ting gelenter
Mambu ketudhung gudhel
Pak Gempong lera lere
Sapa ngguyu ndelikake
Sir sir pong dele gosong
Sir sir pong dele gosong

Lagu atau tembang dolanan ini diciptakan oleh Sunan Giri, salah seorang Walisongo. Sunan Giri memang dikenal punya jasa besar dalam bidang kesenian. Beliau pencipta tembang Asmaradana dan Pucung, serta pencipta tembang dolanan anak-anak yang bernafaskan Islam, seperti Cublak-cublak Suweng, Jamuran, Jelungan, Jithungan dan Delikan. Baca lebih lanjut