Tag

,

Jokowi

Jokowi di tengah-tengah warga Solo, Minggu, 30 September 2012 (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Senin kemarin, tanggal 1 Oktober 2012, seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Kemarin juga, rakyat Solo harus rela ditinggal pemimpinnya yang sangat dicintai, yaitu Joko Widodo alias Jokowi. Pengusaha mebel itu mengajukan permohonan pengunduran diri sebagai walikota.

Jokowi mengundurkan diri karena telah dinyatakan oleh KPU DKI Jakarta sebagai Gubernur Terpilih pada Pemilukada 2012. Dan direncanakan pada Minggu depan, 7 Oktober 2012 Jokowi akan dilantik sebagai Gubernur DKI, masa jabatan 2012-2017.

Menurut UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 28 Angka (g), Kepala Daerah dilarang merangkap jabatan sebagai pejabat Negara lainnya. Dengan demikian, Jokowi tidak boleh menjabat Gubernur DKI pada saat bersamaan juga walikota Solo. Ia harus melepas jabatan walikota.

Surat permohonan pengunduran diri Jokowi kemarin pagi, segera direspon DPRD Solo. Setelah dibahas di tingkat Bamus, tadi malam langsung digelar Rapat Paripurna. Hasilnya, secara aklamasi 35 anggota DPRD yang hadir menyetujui pengunduran diri Jokowi. Tidak ada keberatan. Tidak ada anggota dewan yang mengganjalnya. Rapat Paripurna hanya berlangsung kurang lebih 10 menit saja.

Ketika Ketua DPRD menanyakan, ”Apakah permohonan Ir. Joko Widodo untuk berhenti dari jabatannya sebagai Walikota Surakarta periode 2010-2015 dan usulan pengangkatan Wakil Walikota FX Hadi Rudyatmo sebagai Walikota dapat disetujui dan diusulkan ke Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Jawa Tengah?”. Secara serentak seluruh anggota DPRD menjawab, “Setuju,”

Kekhawatiran yang sempat muncul selama Pemilukada DKI, tidak terbukti. Kekhawatiran bahwa langkah Jokowi belum tentu mulus. Kemenangannya bisa tidak berarti kalau pengunduran dirinya ditolak oleh DPRD, seperti yang dialami Wakil Gubernur DKI Prijanto.

Inilah kelebihan Jokowi. Meskipun anggota DPRD yang separtai dengan Jokowi hanya 15 dari 40 orang, namun ia mampu merangkul semuanya. Anggota Dewan dari Demokrat, PAN, PKS, Golkar dan lainnya pun satu suara mendukung langkah Jokowi menuju Ibukota.

Dukungan warga Solo untuk Jokowi (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Tidak hanya anggota DPRD yang mengikhlaskan kepergian Jokowi, warga Solo pun legowo menerima kepindahan tugas insinyur alumni UGM itu. Saya buktikan sendiri hari Minggu, 30 September 2012 yang lalu, saat Car Free Day. Warga Solo dan sekitarnya berduyun-duyun datang ke Loji Gandrung, rumah dinas walikota. Ada yang datang untuk mengucapkan selamat atas terpilihnya Jokowi sebagai Gubernur DKI. Ada yang mengucapkan selamat jalan menuju Ibukota. Ada yang mengucapkan terima kasih atas kepemimpinan Jokowi selama 7 tahun di Solo. Dan, ada yang sekedar ingin berfoto kenangan.

Saya terharu, melihat antusiasnya warga untuk bertemu dengan Jokowi. Mereka begitu mencintai pemimpinnya. Tidak ada sekat atau jarak antara rakyat dengan pemimpin. Tampak warga Solo bangga punya pemimpin seperti Jokowi. Pemimpin yang merakyat, ramah dan dekat dengan rakyat, dan selalu membela kepentingan rakyat. Pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai sarana beribadah dan pengabdian untuk memberikan kemanfaatan atau kemaslahatan bagi rakyat banyak. Pemimpin yang melayani, bukan minta dilayani.

Jokowi membalas uluran tangan warga tanpa pilih kasih. Wartawan yang bertanya, ia layani dengan baik. Ia bicara apa adanya, tidak dibuat-buat. Tidak direkayasa dan serba alami. Jokowi memang lugu dan polos, tapi di situlah letak kekuatannya. Kepribadian seperti itu menandakan pribadi yang jujur. Tidak bisa bermain kata-kata atau beretorika.

Warga Solo pasti merasa kehilangan Jokowi. Tapi, mereka juga sadar bahwa Jokowi tidak hanya milik warga Solo. Eman-eman (sangat disayangkan), jika kemampuan dan kelebihan Jokowi hanya dimanfaatkan untuk Kota Solo. Ibukota Negara juga perlu mendapat sentuhan tangan Jokowi.

Warga Solo tentu bahagia bisa mempersembahkan putra terbaiknya untuk mengabdi di Jakarta, yaitu ibukota dari sebuah negeri yang mereka semua cintai. Dari Solo untuk Indonesia.

Karena itulah, pada malam Pemilukada putaran kedua, 19 September 2012 yang lalu, warga Solo menggelar Doa Bersama untuk Kemenangan Jokowi di Plaza Sriwedari. Saya pun datang bersama anak dan istri. Anak saya turut menuliskan namanya pada kain putih berukuran 1 x 3 m2 sebagai wujud dukungan.

Doa Bersama Warga Solo (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Semoga Jokowi tidak berubah setelah hidup di Ibukota. Semoga ia tetap dekat dengan rakyat, sehingga rakyat merasa tidak ada jarak dengan pemimpinnya. Semoga Jokowi senantiasa mempedomani pesan junjungannya, Nabi Muhammad SAW. yang menyatakan:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ

Artinya:

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, serta pemimpin yang kalian doakan dan mereka mendoakan kalian.

Sedangkan seburuk-buruknya pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian, serta pemimpin yang kalian kutuk (laknat) dan mereka mengutuk (melaknat) kalian”.

Saya bersama Jokowi di halaman Loji Gandrung, 15 Januari 2012 (Dok. Fahrurrozi Zawawi)