Tag

,

Di pendopo Dalem Kalitan (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Siapa yang tidak kenal Dalem Kalitan? Pada era Orde Baru, tempat itu cukup populer. Ya, itu adalah tempat Presiden Soeharto (saat masih berkuasa) dan keluarganya beristirahat ketika berkunjung ke Solo. Pak Harto, Bu Tien dan keluarganya tidak pernah menginap di hotel selama berada di Solo kecuali di Dalem Kalitan.

Sabtu, 26 Mei 2012 saya bersama anak dan istri berkunjung ke Dalem Kalitan. Jarak bangunan tua bergaya limas atau joglo yang dibangun pada tahun 1789 itu dari tempat tinggal saya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 5 km. Saya pun sering melewati jalanan di depan Dalem Kalitan.

Dalem Kalitan terletak di Kampung Kalitan Kelurahan Penumping Kecamatan Laweyan Solo, atau bersebelahan dengan Solo Paragon yang merupakan bangunan tertinggi di Solo.

Menurut riwayat, sebelum tahun 1965 bangunan di atas tanah seluas satu hektar itu awalnya milik Paku Bowono X, lalu dihibahkan ke putra bungsunya, Kanjeng Gusti Ratu Alit. Karena pemiliknya bernama Ratu Alit, maka tempat itu dinamakan Dalem Kalitan.

Beberapa tahun setelah Pak Harto menjadi presiden, Dalem Kalitan dibeli oleh Bu Tien Soeharto. Daripada jatuh ke tangan orang lain, maka tempat itu dibeli Bu Tien yang masih kerabat Keraton dari Mangkunegaran. Sejak saat itu, Dalem Kalitan seperti rumah kedua keluarga Pak Harto.

Untuk diketahui, Bu Tien Soeharto yang nama lengkapnya Siti Hartinah masih canggah dari Mangkunegara III. Canggah yaitu keturunan keempat. Karena itu, Bu Tien dan Pak Harto dimakamkan di Astana Giribangun, tempat pemakaman keluarga Mangkunegara.

Foto Pak Harto dan Bu Tien didampingi 5 anak dan 4 menantu. Hanya Hutomo Mandala Putra yang belum menikah saat foto itu diambil semasa Bu Tien masih ada. Foto dipajang di pendopo

Dalem Kalitan terdiri dari tiga bagian. Yaitu pendopo, ruang tengah atau pringgitan dan senthong (ruang tidur). Pendopo dulunya digunakan Pak Harto dan Bu Tien menemui tamu-tamunya. Sekarang, setelah keduanya tiada, pendopo biasa digunakan untuk ruang pertemuan bagi masyarakat umum. Sedangkan di ruang tengah sekarang ini banyak terdapat foto-foto Pak Harto dan Bu Tien, serta cinderamata dan penghargaan.

Di foto-foto Pak Harto itu banyak dicantumkan kalimat mutiara yang dulunya kalimat itu sering disampaikan Pak Harto tatkala masih berkuasa. Kalimat-kalimat itu merupakan bagian dari falsafah Jawa. Misalnya tertulis kalimat, “Wong iku kudu ngudi kabecikan jalaran kabecikan iku sanguning urip” yang artinya orang itu harus mencari kebaikan sebab kebaikan itu bekal hidup. Ada kalimat, “Nglurug tanpa bala” yang artinya menyerang tanpa pasukan. Ada juga kalimat, “Menang tanpa ngasorake” yang artinya menang tanpa mengalahkan, dan lain sebagainya.

Berikut ini, antara lain, foto-foto di ruang tengah Dalem Kalitan:

Saya dan istri mengapit foto Pak Harto (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Foto Mangkunegara III di antara foto orang tua Bu Tien Soeharto (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Foto Pak Harto (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Cinderamata dan penghargaan (Dok. Fahrurrozi Zawawi)