Tag

,

Tugu Lilin Pajang (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, nama Tugu Lilin tentu tidak asing lagi. Tugu tersebut terletak di Kelurahan Pajang Kecamatan Laweyan. Persisnya berada di pertigaan Pajang pertemuan Jl. Joko Tingkir, Jl. Dr Radjiman dan Jl. Slamet Riyadi Makamhaji, perbatasan Solo dan Kartasura. Rumah, pertokoan, perkantoran dan warung di sekitar Tugu Lilin menjadikan nama atau menambahkan nama itu sebagai alamat. Misalnya, Apotek Tugu Lilin, Mie Ayam Tugu Lilin atau Toko Besi Tugu Lilin.

Namun, Tugu Lilin Pajang itu tidak punya nilai historis. Tugu Lilin di Solo yang memiliki nilai sejarah, meskipun tidak terlalu populer adalah Tugu Lilin yang terletak di Kelurahan Penumping Kecamatan Laweyan. Tugu itu dibangun pada tahun 1933 bertepatan dengan peringatan 25 tahun Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 20 Mei sejak berdirinya Boedi Oetomo. Sebagaimana tertulis di prasasti Tugu Lilin Penumping, pembangunan tugu tersebut untuk Peringatan Pergerakan Kebangsaan Indonesia.

Tugu Lilin Penumping (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Menurut cerita dari mulut ke mulut, pada tahun 1933 Dr Soetomo dan Dr Setiadi berkunjung ke Solo. Kedatangan kedua tokoh itu bertepatan dengan selesainya pembangunan tugu yang digagas oleh Woerjaningrat, Ketua Parindra Solo. Sebelumnya, Woerjaningrat telah berkeliling Nusantara, dan ia sempat mengambil tanah di daerah-daerah yang ia kunjunginya. Tanah itu lalu ia jadikan pondasi tugu. Dengan demikian, tugu itu dimaksudkan sebagai simbol persatuan bangsa yang kala itu masih di bawah penjajahan.

Dibentuknya tugu itu seperti lilin dengan api merah di pucuknya sebagai simbol perjuangan yang terus menyala sampai tercapainya kemerdekaan.  Saat peresmiannya, Dr Soetomo mengatakan, ”Van Solo begin de vyctory (Dari Solo kemenangan dimulai).”

Tugu Lilin atau disebut juga Tugu Kebangkitan Nasional itu sampai sekarang dijadikan sebagai tempat bersejarah. Maka, Upacara Peringatan Harkitnas Kota Solo selalu dilaksanakan di tempat tersebut.

Semoga dalam diri kita terus menyala semangat perjuangan. Tidak lagi perjuangan untuk meraih kemerdekaan seperti dulu, tapi perjuangan untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan.