Tag

,

Kirab Napak Budaya Samanhoedi 2012 (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Jumat, 18 Mei 2012, masyarakat Kelurahan Sondakan Kecamatan Laweyan Solo menggelar Kirab Budaya Samanhoedi yang merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Napak Budaya Samanhoedi (NBS) 2012. Kirab Budaya yang diikuti sekitar 1.500 orang itu melewati rute sepanjang 3 km, yaitu Jl Slamet Riyadi antara Solo Center Point sampai Tugu Purwosari, Jl KH Agus Salim, Jl Dr Radjiman dan Jl Perintis Kemerdekaan.

Masyarakat peserta kirab mengenakan berbagai macam kostum, seperti beskap, batik, pakaian beladiri dan macam-macam jenis pakaian lainnya. Mereka mengarak gunungan makanan, gunungan sayur-sayuran dan dua canting raksasa milik Canthing Kakung, komunitas seniman batik di Kelurahan Sondakan.

Peserta Kirab berbusana batik (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Selain Kirab Budaya, kegiatan lain yang digelar dalam rangka NBS, adalah ziarah ke makam Haji Samanhoedi, malam renungan nilai luhur Samanhoedi dan pembukaan Museum Samanhoedi. Museum yang berisi koleksi foto dan dokumen sejarah Samanhoedi itu awalnya dibuka di dekat Makam Samanhoedi di Kampung Batik Laweyan di bawah Yayasan Warna-Warni pimpinan Krisnina Maharani, istri Akbar Tandjung yang asli Solo itu. Namun, karena waktu kontrak tempat tersebut telah habis dan tidak bisa diperpanjang maka museum dipindahkan dan menempati salah satu ruangan Kantor Kelurahan Sondakan.

Selain itu, NBS juga diramaikan stan-stan yang berdiri di sepanjang Jl KH Samanhoedi dengan menampilkan kerajinan batik. Kehadiran batik pada NBS untuk menegaskan dan menunjukkan bahwa batik adalah produk andalan masyarakat Sondakan, yang juga usaha Samanhoedi semasa hidupnya.

NBS 2012 adalah penyelenggaraan NBS kedua yang bertemakan “Hanggayuh Jejeging Adil”, artinya meraih tegaknya keadilan. Ini merupakan cita-cita dari Samanhoedi, yang perlu dilanjutkan oleh generasi sekarang ini.

Foto Haji Samanhoedi di Museum Samanhoedi

Haji Samanhoedi (menurut EYD ditulis Samanhudi) lahir pada tahun 1868. Pada tahun 1911, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) di Solo. Faktor yang melatarbelakangi pendirian SDI karena adanya diskriminasi yang dilakukan penjajah dalam memperlakukan pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam dengan pedagang Cina. Ia memandang pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka.

Meskipun awalnya SDI merupakan persarekatan pedagang batik di Solo, namun dalam perjalanan waktu setelah dipimpin HOS Cokroaminoto dan berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI), organisasi rintisan Samanhoedi itu berkembang menjadi organisasi pergerakan yang sangat disegani dan melahirkan tokoh-tokoh besar di Indonesia. Atas jasa Samanhoedi, Pemerintah RI menganegerahinya gelar Pahlawan Pergerakan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No: 590 Tahun 1961, tanggal 9 November 1961.

Presiden Soekarno menyematkan penghargaan kepada Soekamto (putra Samanhoedi) mewakili Samanhoedi, di Istana Merdeka pada 15 Februari 1960 (Foto di Museum Samanhoedi).

Fayad (anakku) di Pusara Samanhoedi