Tag

, , ,

Mahmud sedang menyampaikan ceramah (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Minggu, 26 Februari 2012 saya mengajak Mahmud Hamzawi, sahabat karib saya asal Mesir berkunjung ke Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Daarul Fath Pengging Boyolali. Di pesantren yang dipimpin oleh Ustadz Amiruddin Zawawi itu saya meminta Mahmud untuk menyampaikan muhadharah atau ceramah umum di hadapan para santri. Saya yakin mereka pasti senang bisa mendengarkan bahasa Arab dari penutur aslinya. Dengan harapan supaya mereka termotivasi mempelajari bahasa Al-Quran lebih giat lagi.

Begitu saatnya Mahmud berbicara, para santri tampak kaget dan terpesona. Mahmud tidak hanya menyapa mereka dengan sapaan bahasa Arab “ikhwati” atau “ayyuhat talamidz”, namun juga “saudara-saudara” dan yang lebih membuat para santri berdecak kagum tatkala Mahmud mengatakan “sedherek-sedherek sedoyo ingkang kulo hormati lan kulo tresnani”.

Mahmud menyampaikan ceramah kurang lebih satu jam dalam bahasa gado-gado, antara Arab, Inggris, Indonesia dan Jawa. Kemudian para santri diberi kesempatan untuk bertanya. Tampak para santri serius menyimak ceramah Mahmud sambil sesekali tertawa karena lelucon yang dibuat Mahmud. Ia sempat mengatakan bahwa menyampaikan ceramah atau kuliah di Indonesia itu harus dibumbui dengan canda tawa, beda dengan di Mesir yang kering dari humor. “Karena itu, kita STW, Sante Wae,” ujarnya yang disambut tawa para santri.

Pada ceramahnya, Mahmud mengatakan bahwa menguasai bahasa asing itu penting karena beberapa alasan. Antara lain, bisa membuka pintu rejeki, membuat kita terbuka terhadap dunia dan membuat kita mudah menguasai ilmu.

“Saya berharap, kalian jangan mau kalah dari saya. Saya yang orang Mesir cukup percaya diri berbicara di hadapan orang-orang Indonesia. Karena itu, pelajari bahasa Arab dengan sungguh-sungguh sampai kalian PeDe bisa berbicara dengan orang-orang Arab,” tambahnya.

Mahmud berfoto bersama para ustadz dan santri (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Saya dan Mahmud berada di pesantren yang dahulunya menjadi kampung halaman Jaka Tingkir bin Ki Ageng Pengging bin Brawijaya VI itu selama 2 jam. Setelah itu, dalam perjalanan pulang kami mampir ke rumah Rektor IAIN Surakarta, DR Imam Sukardi di Kartasura, sekaligus numpang shalat Maghrib. Pak Imam pun kagum dengan kemampuan Mahmud berbahasa Indonesia. “Wah, saya malah kalah. Bahasamu terstruktur sesuai tata bahasa,” puji pria asal Jombang itu terhadap Mahmud.

Sebelum pamit, Pak Imam menyatakan ingin mengundang Mahmud ke IAIN Surakarta. “Pada prinsipnya, IAIN ingin banyak mendatangkan native speaker, baik bahasa Arab maupun Inggris, untuk memberikan motivasi bagi mahasiswa,” alasannya.

Sekilas tentang Mahmud Hamzawi

Selama di Mesir tahun 2004-2009 saya tidak akrab dengan Mahmud. Saya memang pernah lihat Mahmud di Masjid Sekolah Indonesia Cairo (SIC), tapi kami belum saling mengenal saat itu. Saya hanya tahu bahwa ada warga Mesir bernama Mahmud, yang akrab dengan para mahasiswa Indonesia dan ia lancar berbicara bahasa Indonesia.

Praktis, saya mengenal Mahmud dengan baik setelah pulang ke Indonesia, ketika kami sama-sama terlibat dalam penyusunan buku Potret Hubungan Indonesia Mesir, terbitan KBRI Cairo, sejak Oktober 2009.

Mahmud lahir di Geiza Mesir tahun 1975 dan menamatkan pendidikan S1 dari Universitas Al-Azhar Cairo, Jurusan Bahasa dan Terjemah tahun 1999. Setelah itu, ia sempat bekerja di bidang penerjemahan selama 4 tahun.

Mahmud menyukai bahasa. Sejak dulu ia tertarik belajar bahasa apa saja. Bahkan ketika tinggal di asrama mahasiswa, ia memilih teman kamar yang berbeda-beda bidang bahasa yang ditekuninya, seperti bahasa Spanyol, Prancis dan Jerman. Ia sendiri menekuni bahasa Inggris.

Rupanya bahasa-bahasa itu saja tidak membuat Mahmud puas. Ia kemudian mendaftar sebagai siswa di PUSKIN (Pusat Kebudayaan Indonesia) KBRI Cairo. Awalnya, warga Mesir yang mendaftar kursus gratis bahasa Indonesia bersama Mahmud cukup banyak, tapi lama-kelamaan hanya tinggal sedikit, bisa dihitung jari, dan dari yang sedikit itu termasuk Mahmud.

Mahmud tidak menemukan kesulitan dalam mempelajari bahasa Indonesia. Ia rajin berinteraksi dengan warga Indonesia di Mesir. Ia pun dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan sertifikat kelulusan dari PUSKIN. Tapi, lagi-lagi Mahmud tidak puas sampai di situ. Ia pernah berkata kepada Pak Muzammil Basyuni (ketika itu Wakil Kepala Perwakilan RI di Mesir), “Pak, saya tidak cukup menjadikan bahasa Indonesia sebagai hobi. Saya ingin betul-betul menguasai tentang Indonesia. Maka, saya ingin belajar bahasa dan kebudayaan Indonesia di negaranya sendiri.”

Segala usaha dilakukan Mahmud untuk memperoleh beasiswa belajar ke Indonesia. Setiap ada tokoh penting dari Indonesia, ia temuinya. Sampai kemudian datang Pak Amien Rais pada April 2005. Mahmud tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia kemukakan cita-citanya untuk bisa melanjutkan kuliah di Indonesia kepada Tokoh Reformasi itu.

Benar, tak lama kemudian Mahmud mendapat panggilan belajar dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Berangkatlah anak Desa Al Maqatifiyah Geiza itu menuju Kota Pelajar Yogyakarta.

Di tengah-tengah kuliah, Mahmud jatuh cinta pada seorang gadis Solo lulusan Sastra Indonesia UNS, dan akhirnya menikah. Sampai sekarang Mahmud telah dikaruniai 2 anak.

Mahmud menyelesaikan Magister pada 2009. Ia masih belum puas dengan S2. Ia lanjutkan ke jenjang S3. Ia menulis disertasi dalam bahasa Indonesia berjudul, “Kebijakan Rezim Otoriter terhadap Islam Politik: Studi Kasus Rezim Soeharto dan Anwar Sadat”. Tak lama lagi dalam hitungan hari, Mahmud akan mengikuti Ujian Terbuka Program Doktor Politik di UMY. Mahmud akan menjadi Warga Negara Mesir pertama yang meraih gelar Doktor dari universitas di Indonesia.

Selamat Mahmud….!!!! Kemampuanmu dalam berbahasa Indonesia dan pengetahuanmu tentang Indonesia akan sangat berguna dalam merevitalisasi hubungan Indonesia dan Mesir, karena Engkaulah yang akan menjadi penentu masa depan Mesir.