Tag

,

Bersama keluarga (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Sabtu, 25 Februari 2012, saya dan anak-istri berkunjung wisata ke Museum Manusia Purba Sangiran yang terletak di kaki Gunung Lawu, tepatnya di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen atau 17 km Utara Solo.

Kunjungan kami itu berselang 9 hari setelah kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Daerah Cagar Budaya yang ditetapkan UNESCO sebagai Kawasan World Heritage (Warisan Dunia) No. 593 itu, pada Kamis, 16 Februari 2012.

Menurut keterangan yang tertulis di dinding museum bahwa daerah Sangiran memang sudah lama dikenal sebagai penghasil fosil-fosil, yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai tulang-tulang balung buto (manusia raksasa) yang mati akibat peperangan.

Awalnya, sekitar tahun 1860, maestro seni lukis modern Indonesia, Raden Saleh kerapkali berkunjung ke Sangiran untuk memenuhi hobinya mengumpulkan fosil yang kemudian ia tunjukkan ke teman-temannya, orang-orang Eropa. Karena itulah, Sangiran kemudian dikenal oleh beberapa ahli dari Eropa.

Pada tahun 1893, seorang ahli anatomi berkebangsaan Belanda, Eugene Dubois, mengunjungi Sangiran. Ketika itu ia merasa Sangiran tidak terlalu menjanjikan sehingga ia tidak tertarik melakukan penelitian. Baru pada tahun 1934 seorang ahli paleontologi (ilmu tentang fosil) dari Berlin, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald tertarik mengunjungi Sangiran karena ia mencari situs baru untuk diteliti.

(Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Selama di Sangiran, Von Koenigswald dibantu oleh seorang pemuda bernama Toto Marsono, yang di kemudian hari menjadi Kepala Desa Krikilan. Di bawah koordinasinya, penduduk mengumpulkan fragmen fosil yang waktu itu dikenal sebagai balung buto atau tulang raksasa karena ukurannya yang besar-besar.

Fosil-fosil itu lalu dihimpun oleh Toto Marsono di rumahnya. Von Koenigswald tinggal memilih mana fosil-fosil yang penting dan memberikan imbalan kepada para penemunya.

Pada tahun 1936 Situs Sangiran tidak saja menghasilkan fosil-fosil hewan, tetapi juga fosil manusia. Pertama kali yang ditemukan Von Koenigswald dari hasil penelitiannya adalah fragmen rahang yang cukup besar sehingga ia namai Meganthropus Palaeojovanicus (manusia purba raksasa dari Jawa).

Beberapa tahun kemudian Von Koenigswald menemukan pula bagian-bagian tengkorak manusia yang ia sebut Pithecanthropus Robustus. Sejak itu, Situs Sangiran tak henti-hentinya menghasilkan fosil manusia purba yang kini digolongkan sebagai Homo Erectus Arkaik maupun Tipikal.

Homo Erectus (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Setelah Von Koenigswald kembali ke Eropa, Toto Marsono tetap menghimpun fosil yang penting di rumahnya. Baru pada tahun 1974 Pemerintah Propinsi Jawa Tengah membuatkan gedung untuk menyimpan fosil dengan lebih baik. Tahun 1983 Pemerintah Pusat menghimpun semua koleksi yang ada di Sangiran, termasuk milik Toto Marsono untuk disimpan di museum yang baru. Museum inilah yang kini berkembang menjadi Museum Manusia Purba Sangiran yang ada sekarang.

Melalui museum yang menempati areal seluas 16.675 m2 itu, kita bisa memperoleh informasi lengkap seputar sejarah kehidupan manusia purba, baik itu mengenai habitat, pola kehidupannya, binatang-binatang yang hidup bersamanya dan proses terjadinya bentang alam dalam kurun waktu tidak kurang dari 2 juta tahun yang lalu.

Bangunan museum itu bergaya joglo dan di dalamnya dibagi dalam beberapa bagian, antara lain ruang utama tempat koleksi dipamerkan, ruang laboratorium untuk melakukan konservasi terhadap fosil-fosil yang ditemukan, ruang pertemuan, perpustakaan dan ruang penyimpanan fosil-fosil.

Bandingkan antara manusia tempo doeloe dengan manusia sekarang (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Museum Sangiran, selain menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra-sejarah. Di museum itu terdapat 13.086 koleksi fosil manusia purba, dan juga dapat ditemukan fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air, bebatuan, fosil tumbuhan laut serta alat-alat batu.

Mengenalkan sejarah kepada anak di usia dini (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Saya puas dengan kunjungan wisata ke Sangiran. Hanya dengan tiket masuk sebesar Rp 3.000,- (tiga ribu rupiah) per orang, saya dan keluarga bisa memperoleh banyak ilmu pengetahuan, serta hiburan.

Saya juga bangga sebagai bangsa Indonesia. Keberadaan Situs Sangiran menjadi bukti bahwa bangsa kita adalah bagian dari peradaban yang pernah hidup di masa silam.