Tag

, ,

Gapura Masuk Lokasi Sekaten (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Perayaan Sekaten Solo 2012 merupakan perayaan pertama yang saya jumpai sejak saya tinggal di Solo, mulai 10 April 2011. Karena itu, saya betul-betul ingin tahu apa dan bagaimana Sekaten. Saya mendatangi lokasi Sekaten sebanyak empat kali. Pertama pada Sabtu malam (28/1) untuk menikmati Pasar Malam, kedua pada Minggu (29/1) saat pembukaan Sekaten, ketiga pada Jumat (3/2) untuk shalat Jumat di Masjid Agung dan terakhir pada Minggu (5/2) saat penutupan. Jarak lokasi Sekaten dari tempat tinggal saya hanya 9 km.

Tujuan dari penyelenggaraan Sekaten adalah memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Mulud atau Rabiul Awal, yang dirintis pertama kali oleh para wali pada masa Kerajaan Islam Demak, berlanjut masa Pajang, Mataram dan sampai sekarang. Istilah Sekaten berasal dari bahasa Arab, yaitu “Syahadatain” yang berarti dua kalimat syahadat, sebagai kalimat pertama yang harus diucapkan oleh orang yang pertama kali masuk agama Islam.

Adapun kegiatan Sekaten sendiri berpusat di Masjid Agung. Setiap bakda Maghrib dan bakda Isya diselenggarakan pengajian, ada festival hadrah dan lomba-lomba seperti lomba dakwah dan lomba pembacaan Kitab Al-Banzanji.

Meskipun kegiatan Sekaten berlangsung dari tanggal 5 sampai 12 Rabiul Awal tiap tahun, namun satu bulan sebelum itu, di Alun-Alun Utara atau Halaman Depan Keraton Solo sudah digelar Pasar Malam. Banyak makanan, pakaian yang dijajakan serta mainan anak-anak.

Rangkaian kegiatan Sekaten Solo 2012 dimulai pada Minggu, 29 Januari 2012, ditandai dengan penyerahan gamelan dari pihak Keraton kepada panitia. Keberadaan gamelan pada kegiatan Sekaten sudah ada sejak Sekaten diadakan pertama kali. Para wali yang berinisiatif menggunakan gamelan sebagai penghormatan kepada para tamu yang datang memasuki Masjid untuk memperingati Muludan.

Para Abdi Dalem Karawitan menabuh gamelan (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Saat gamelan ditabuh pertama, selalu menjadi momentum kebersamaan antara para pejabat, sentana dan abdi dalem beserta ribuan pengunjung Sekaten untuk mengunyah kinang (sirih). Tradisi “nginang” sebagai simbol ngalab berkah Sekaten, diyakini kalangan masyarakat Jawa bisa membuat awet muda. Itulah sebabnya, semua tamu undangan yang hadir pada upacara pembukaan Sekaten itu mendapat bingkisan yang dikemas dalam kardus berisi sepaket kinang, endog kamal (telur asin) dan makanan kecil.

Selama satu pekan gamelan tersebut ditabuh. Selama itu pula tidak boleh ada yang berjualan di sekitar Masjid kecuali tujuh dagangan saja, yaitu kinang, telur asin, pecut, gangsingan, nasi liwet, cabuk rambak dan wedang ronde.

Berebut Gunungan

Minggu, 5 Februari 2012 bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 1433 Hijriyah, adalah hari yang paling ditungg-tunggu masyarakat Solo dan sekitarnya, karena hari itu menjadi Gerebeg Mulud, maksudnya selesainya atau bubarnya perayaan Muludan. Sejak pagi masyarakat sudah berbodong-bondong mendatangi Masjid Agung Solo, dengan tujuan untuk mendapatkan berkah dari Gunungan yang merupakan puncak dari perayaan Sekaten 2012.

Pagi itu saya tiba di Masjid Agung sekitar pukul 07.20 WIB. Para pedagang yang berjualan di halaman Masjid, belum banyak yang membuka dagangannya. Suasana masih adem ayem, tak tampak akan ada perayaan besar. Karena itu, saya dan anak-istri mengisi waktu dengan berkeliling Kraton, Pasar Klewer dan Masjid Agung.

Suasana Gerebeg Mulud (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Sekitar pukul 10.00 WIB serambi dan halaman Masjid sudah mulai penuh oleh pengunjung. Sebelum Gunungan datang, digelar pengajian oleh seorang ulama yang mengupas seputar Sekaten.

Pukul 10.30 WIB Gunungan tiba di serambi Masjid. Gunungan merupakan simbol dari manunggaling kawula gusti, bahwa seorang raja harus memperhatikan rakyatnya dengan membagi-bagikan hasil bumi. Gunungan itu berupa tumpukan sayur-mayur seperti kacang panjang, terong, wortel dan tomat. Kedatangannya diarak melalui “Kirab Gunungan” dari Keraton menuju Mesjid Agung yang berjarak kurang lebih 500 meter. Kirab diikuti para abdi dalem, prajurit keraton dan pembawa delapan kotak pusaka Keraton.

Arak-arakan Gunungan Sekaten (solopos.com)

Berkali-kali panitia mengingatkan agar pengunjung yang membawa anak kecil harap tidak terlalu dekat dengan posisi Gunungan. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, akan terjadi rebutan terhadap Gunungan, maka dikhawatirkan anak-anak kecil bisa terinjak oleh massa yang sudah tak terkendali. Itulah sebabnya, saya memilih tempat duduk yang agak jauh demi keselamatan anak, meskipun akibatnya saya tidak bisa mengabadikan peristiwa langka itu. Kamera saya tak mampu menjangkau kedatangan Gunungan sampai kemudian terjadi rebutan.

Tampak dari kejauhan suasana rebutan Gunungan (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Saya sempat mengelus dada, kenapa masyarakat begitu tak terkendalinya menghadapi Gunungan. Baru saja pemimpin spiritual memulai baca Al-Fatihah untuk memanjatkan doa, seketika terdengar suara rebut ramai di sekeliling Gunungan. Dalam sekejap tumpukan sayur mayor itu ludes diserba massa. Mereka tak mempedulikan perlunya ada doa.

Ternyata, ada keyakinan di kalangan masyarakat, bahwa Gunungan itu membawa berkah. Masyarakat yang berhasil mendapat kacang panjang, terong atau sayur mayur lainnya, akan menanamnya di sawah. Mereka meyakini dengan begitu padinya akan gemuk-gemuk dan tidak diserang wereng, dan itu sudah terbukti di panen sebelumnya. Selain itu, apa pun yang berasal dari Gunungan Sekaten bisa menyembuhkan semua penyakit. Karena itulah, mereka berebut.