Tag

, ,

Arah Ruang Menyusui (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Berkat jasa Presiden Gus Dur yang menjadikan Imlek sebagai hari libur, saya (dan mungkin Anda juga) bisa menikmati liburan selama tiga hari. Tanggal 21, 22 dan 23 Januari 2012. Saya manfaatkan waktu libur itu untuk pulang kampung ke Pati Bumi Mina Tani guna mengunjungi orang tua dan keluarga.

Saya naik bus dari Terminal Tirtonadi Solo menuju Purwodadi, lalu berganti bus menuju Pati. Di Terminal Tirtonadi Solo saya sempat berhenti beberapa saat. Bukan karena saya ingat lagu campursari berjudul Tirtonadi yang dinyanyikan Didi Kempot, penyanyi terkenal asal Solo. Bukan karena saya terkenang dengan lirik lagu, “Tirtonadi yang menjadi saksi, janjimu kan kembali. Lama sudah diriku menanti, tak sabar rasa hati.”

Saya berhenti karena melewati suatu ruangan yang mengagumkan dan cukup menggoda. Di bagian depannya tertulis, “Ruang Menyusui”. Saya langsung keluarkan kamera digital dari tas jinjing. Saya jepret beberapa kali lokasi itu dari berbagai sudut pandang. Bagi saya, ini pemandangan yang luar biasa dan baru saya temukan di Solo. Saya tidak pernah menemukan di terminal manapun yang saya singgahi ada tempat khusus disediakan untuk menyusui.

Ruang Menyusui Terminal Tirtonadi Solo (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Ternyata saya baru tahu, Terminal Solo merupakan terminal pertama kali di Indonesia yang memiliki ruang menyusui. Diresmikan oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar pada 30 Juni 2011, di sela-sela Konferensi Internasional Kota Layak Anak Se-Asia Pasifik, di The Sunan Hotel Solo.

Prasasti Peresmian (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Disediakannya ruang menyusui itu sebagai upaya Pemerintah Kota Solo menuju Kota Layak Anak pada tahun 2015. Ruang tersebut terletak di sebelah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Terminal Tirtonadi yang luasnya 3 x 3 meter dengan fasilitas pendingin udara, sofa, lemari es, dispenser, wastafel dan mainan anak.

Ruang itu bersih, nyaman dan tentu aman. Para ibu yang ingin menyusui bayinya tidak perlu kerepotan atau malu membuka kancing baju, dan tidak perlu merasa was-was dilihat orang lain. Mereka bisa dengan tenang dan leluasa menyusui, sebab tempat itu selalu dalam pengawasan petugas Terminal. Sebaliknya, para penumpang dan aktifis Terminal tidak terganggu dengan pemandangan ibu menyusui.

Ruang Menyusui (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Pemerintah Kota Solo di bawah kendali Joko Widodo, memang patut diacungi jempol. Kota yang mendapat julukan The Spirit of Java itu menaruh perhatian terhadap pemberian Air Susu Ibu (ASI). Ibu-ibu tidak dibiarkan membuka aurat di muka umum yang membuat mereka kikuk, risih dan serba salah karena jadi tontonan orang-orang yang berlalu-lalang, sehingga proses penyusuan menjadi kurang maksimal.

Dengan disediakannya tempat khusus menyusui, diharapkan pemberian ASI oleh ibu kepada anaknya sesuai yang diharapkan. ASI dapat membentuk perkembangan kecerdasan, rohani dan perkembangan emosional, sebab dalam dekapan ibu selama menyusui anak bersentuhan langsung dengan ibu, sehingga memperoleh kehangatan, kenyamanan dan kasih sayang.