Tag

, ,

Saya sedang mengamati Mobil Kiat Esemka (Dok. Pribadi Fahrurrozi Zawawi)

Saya sedang mengamati Mobil Kiat Esemka (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Car Free Day atau hari bebas kendaraan di Solo dalam dua pekan terakhir ini, tanggal 8 dan 15 Januari 2012, tampak lebih semarak dari biasanya. Pasalnya, warga tidak hanya bisa berolah raga mengendarai sepeda, berjalan kaki, senam, bermain bulu tangkis dan tenis meja, atau sekedar cuci mata, atau bermain-main sambil menikmati kuliner pagi khas kota Solo, sepanjang Jalan Slamet Riyadi dari Purwosari sampai Bundaran Gladag (sekitar 4 km). Lebih dari itu, warga juga diberi kesempatan untuk menikmati Mobil Kiat Esemka yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat Indonesia hari-hari ini.

Warga mengamati bagian mesin Mobil Kiat Esemka (Dok. Pribadi Fahrurrozi Zawawi)

Warga sedang mengamati bagian mesin Mobil Kiat Esemka (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Mobil Kiat Esemka itu dipajang di depan Loji Gandrung yang tidak lain adalah rumah dinas Walikota Solo.  Tampak warga antusias melihat-lihat mobil dinas bernomor polisi AD 1 A itu. Ada yang mengamati bagian mesinnya atau merasakan kenyamanan joknya. Ada juga yang cuma berfoto. Semua yang datang diliputi penasaran dan rasa bangga, termasuk saya.

Istri saya duduk di jok Mobil Kiat Esemka (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Minggu, 15 Januari 2012, sekitar jam 07.00 WIB saya beserta anak dan istri sudah sampai di Loji Gandrung. Setelah menggerakkan badan beberapa menit dan berjalan-jalan mengamati bangunan kuno warisan Kolonial itu, saya bergabung bersama masyarakat banyak yang sedang menikmati Mobil Kiat Esemka.

Ketika saya sedang asyik mengamati mobil rakitan siswa-siswa SMK 2 Surakarta itu, tiba-tiba Walikota Solo Joko Widodo yang akrab dipanggil Jokowi muncul di tengah kerumunan orang banyak. Ia baru selesai berolah raga mengendarai sepeda dan hendak masuk ke kediamannya. Kontan saja, warga mengalihkan perhatian ke tokoh pencetus Mobil Kiat Esemka. Mereka ada yang bertanya-tanya seputar mobil, menyampaikan komentar atau hanya berfoto.

Saya terkesima dengan cara Jokowi hadir di tengah-tengah masyarakat. Tidak ada sirine pasukan pengawal yang mengabarkan kehadirannya, tidak ada polisi atau Satpol PP yang menyisir jalan supaya masyarakat menepi. Tidak ada protokol.

Saya bersama Jokowi (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Pada saat Jokowi turun dari sepeda dan hendak menuju rumahnya, seorang staf minta ijin mau membawakan sepedanya, tapi tidak diijinkan. Jokowi tetap menuntun sepeda itu sampai teras rumah. Setiap kali ada warga yang bertanya, Jokowi melayaninya tanpa mau tahu siapa yang bertanya, apakah wartawan, pejabat atau wong cilik. Baginya, semua layak dilayani. Bahkan ketika sedang berjalan menuntun sepeda, ia tidak marah atau keberatan saat ada yang mencegatnya untuk sekedar berfoto. Siapapun bisa mendekat, bersalaman dan berbicara secara langsung tanpa ada sekat.

Pemimpin seperti ini yang saya banggakan. Ia tak takut dengan rakyatnya sendiri, sampai-sampai segala aktivitasnya tidak perlu dipagarbetisi oleh aparat keamanan. Justru sebaliknya, dekat dengan rakyat menjadikannya tahu apa yang sesungguhnya dikehendaki rakyat.

Jokowi memang sosok pemimpin yang merakyat. Ia mencintai rakyatnya. Segala kebijakannya diorientasikan kepada kepentingan rakyat banyak. Ini sejalan dengan Kaidah Fiqh:

تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

Artinya, “Kebijakan pemimpin kepada rakyat didasarkan pada kemaslahatan”

Jokowi tampil sederhana dan tidak suka bergaya hidup mewah karena hal itu bisa menggerogoti Kas Daerah yang tidak lain adalah uang rakyat. Ia menolak rencana Pemerintah Propinsi Jawa Tengah untuk membangun mall di lahan bekas Pabrik Es Saripetojo Solo, karena ia ingin melindungi usaha rakyat kecil. Ia tidak pernah menggusur Pedagang Kaki Lima dengan kekerasan, melainkan ia ajak bicara rakyat kecil itu dan makan-makan di Balikota selama puluhan kali, baru mereka sendiri yang memilih pindah tempat dagangnya secara ikhlas tanpa merasa ada tekanan dan paksaan.

Tidak hanya itu, sejak dilantik sebagai Walikota Solo tahun 2005 sampai saat ini Jokowi yang berlatar belakang pengusaha mebel tidak pernah mau mengambil gaji. Kalau gaji yang sudah menjadi haknya saja tidak diambil, rasanya tidak perlu lagi ditanya, “Apakah Bapak pernah menerima suap?”.

Sejak dilantik juga ia belum pernah merasakan mobil dinas baru. Yang ia tumpangi selama ini adalah mobil dinas Toyota Camry keluaran tahun 2002, yang merupakan peninggalan mobil dinas Walikota Solo sebelumnya, Slamet Suryanto.

Mesin Mobil Kiat Esemka (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Jokowi baru mau mengganti mobil dinas setelah lahir Kiat Esemka, sebuah mobil hasil rakitan putra-putra Solo yang 80 % bahannya diproduksi dalam negeri. Keberaniannya mengganti mobil dinas dengan produksi lokal bukan tindakan “sembrono” yang bertujuan mencari popularitas atau cari muka di depan publik. Ia ingin membuka mata rakyat Indonesia supaya mau berkarya atau memproduksi, bukan hanya sebagai konsumen atau penikmat mobil-mobil impor. Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Bahwa ada kekurangan dan kelemahan di sana-sini, itu adalah hal yang wajar,  yang harus dijadikan cambuk untuk perbaikan di masa mendatang. Sekali layar terkembang pantang surut ke pantai.