Tag

,

Jika kain dilukis atau dicat batik, itu merupakan hal biasa dan bisa ditemukan di banyak daerah, tapi kalau tembok bangunan dilukis atau dicat dengan motif batik itu sangat luar biasa dan jarang ditemukan. Di Solo (nama formalnya Surakarta), batik tidak hanya ditemukan di Kampung Batik Laweyan dan Kauman dalam wujud berupa kain, namun lebih dari itu juga ditemukan di sepanjang jalan dalam wujud gapura, poskamling, tugu dan jalan.

Sekilas Batik Solo

Sejak berdomisili di Solo mulai 10 April 2011, saya telah menjelajahi Solo yang terkenal dengan batiknya. Tentu, tidak terlalu sulit menghimpun informasi seputar Solo dan batiknya. Solo hanyalah kota (kotamadya) kecil. Luasnya sekitar 44 km2, terbagi dalam 5 kecamatan dan 51 kelurahan, serta penduduknya sekitar 504 ribu jiwa pada tahun 2010.

Beberapa usaha batik terkenal di Solo adalah Batik Keris, Batik Danar Hadi dan Batik Semar. Sementara itu, pusat perdagangan batik di Kota Bengawan ini berada di Pasar Klewer, Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman.

Saya tidak tahu persis kapan awal keberadaan batik di Solo. Yang saya tahu bahwa pada tahun 1911 berdiri organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) yang merupakan wadah bagi para pengusaha batik di Solo. Pendirinya adalah KH Samanhudi (Lahir di Laweyan Solo, tahun 1868). Faktor yang melatarbelakangi pendirian SDI karena adanya diskriminasi yang dilakukan penjajah dalam memperlakukan pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam dengan pedagang Cina. Samanhudi memandang pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka.

Fayad (anakku) di Pusara KH Samanhudi

Meskipun awalnya SDI merupakan persarekatan pedagang batik di Solo, namun dalam perjalanan waktu setelah dipimpin HOS Cokroaminoto dan berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI), organisasi rintisan Samanhudi itu berkembang menjadi organisasi pergerakan yang sangat disegani dan melahirkan tokoh-tokoh besar di Indonesia. Atas jasa Samanhudi, Pemerintah RI menganegerahinya gelar Pahlawan Pergerakan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No: 590 Tahun 1961, tanggal 9 November 1961.

Serba Batik

Untuk mengukuhkan diri sebagai Kota Batik, pemerintah dan masyarakat Solo memoles kotanya dengan motif batik. Saya telah lihat beberapa gapura di Kecamatan Serengan, Laweyan dan Banjarsari. Malah tidak hanya gapura yang saya temukan bermotifkan batik. Ada juga poskamling dan tugu dicat dengan motif batik. Betul-betul Kota Batik.

Di bawah ini adalah hasil jepretan saya pada hari Minggu, tanggal 11 dan 18 September 2011:

Gapura di Tipes Serengan

Gapura di Banyuanyar Banjarsari

Poskamling di Kerten Laweyan, dekat SMA Batik 2 Surakarta

Tugu di Pajang Laweyan