Sebagaimana para perantau pada umumnya, saya juga melakukan mudik pada lebaran tahun ini. Saya tiba di kampung halaman hari Jumat siang, 26 Agustus 2011. Kampung atau desa saya bernama Pekalongan, terletak di Kecamatan Winong Kabupaten Pati Propinsi Jawa Tengah. Sekitar 118 km dari tempat tinggal saya sekarang di Solo.

Saat saya datang, di desa sudah banyak warga perantau yang datang lebih dulu. Desa saya memang banyak ditinggal warganya pergi merantau. Ada yang bekerja di Jakarta atau kota-kota besar di Tanah Air, ada yang menjadi tenaga kerja (TKI) di Malaysia, Arab Saudi, Korea, Hongkong, Kuwait dan Qatar, demi memperbaiki nasib hidup. Dan, ada yang merantau untuk menuntut ilmu. Nah, pada hari-hari terakhir Ramadhan itulah kebanyakan perantau pulang ke kampung halaman atau mudik untuk berkumpul keluarga.

Seperti malam-malam sebelumnya, Senin malam tanggal 29 Agustus 2011 saya berangkat menuju Masjid Darussalam yang terletak hanya 100 meter dari rumah orang tua saya. Tujuan saya untuk melaksanakan shalat Isya berjamaah.

Biasanya setelah shalat Isya selesai, Mas Faiz atau Mas Thofa mengumandangkan kalimat “Shollu Sunnatat Tarawihi Rok’ataini Jama’atan Rahimakumullah”. Namun, malam itu tidak. Satu per satu jamaah meninggalkan masjid, termasuk saya, untuk kembali ke rumah. Kami perlu memastikan dulu besok sudah lebaran atau belum. Karena itu, kami menyaksikan sidang itsbat melalui siaran TV. Kalau Pemerintah mengumumkan esok (Selasa) lebaran berarti malam itu tidak ada shalat tarawih, tapi diganti dengan takbiran. Sebaliknya, jika lusa (Rabu) baru lebaran maka malam itu akan dilaksanakan shalat tarawih.

Penantian yang cukup lama. Jarum jam menunjuk angka delapan pun belum jelas hasil sidangnya. Padahal, tidak hanya jamaah masjid yang menunggu-nunggu apakah jadi tarawih atau tidak, tapi masyarakat desa secara keseluruhan juga menunggu apakah jadi takbiran atau tidak. Maklum, masyarakat desa saya memedomani keputusan Pemerintah soal awal Ramadhan dan awal Syawal. Madzhab yang dianut desa saya adalah Madzhab Negara.

Desa saya menaruh ketaatan dan kepatuhan yang tinggi kepada Pemerintah, tanpa memandang siapa pemerintahnya, apa partai dan ormas Menteri Agama-nya. Apalagi setelah keluar Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 2 Tahun 2004 yang menegaskan bahwa seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah.

Sekitar pukul 20.30 WIB, Menteri Agama RI Suryadharma Ali mengumumkan bahwa 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011. Berarti, malam itu masih ada shalat tarawih dan takbiran baru akan digelar malam berikutnya.

Tradisi Takbir Keliling

Perayaan takbiran adalah saat yang paling dinanti-natikan oleh seluruh warga desa setiap tahun. Selain takbiran, tidak ada momentum lainnya yang membuat warga keluar rumah berdiri di sepanjang jalan untuk menyaksikan pawai keliling desa. Pesertanya terdiri dari 14 RT dengan menampilkan kreatifitas dan atraksi yang beraneka ragam.

Takbiran merupakan pesta rakyat yang sudah menjadi tradisi. Jangankan bagi penduduk mukim di desa, warga perantau pun sering menjadikan takbiran sebagai alasan untuk mudik. Bahkan, setelah kembali di rantau, kemeriahan takbiranlah yang kerap diingat. “Anakku selalu ingat dengan takbiran. Kalau kutanya tentang desa, apa yang paling ia suka. Jawabnya adalah takbiran,” cerita Kang Muslich Taman, guru SMA di Bogor.

Rute perjalanan takbiran mengambil start dari Masjid Darussalam lalu mengelilingi desa sampai melewati pertigaan Pasar Winong. Rombongan tiap RT pada umumnya sama, yaitu pada bagian depan ada dua perempuan yang membawa spanduk identitas RT, lalu di belakangnya ada anak-anak SD yang membawa oncor atau lampu hias dengan mengenakan seragam sekolah, olahraga, pakaian taqwa, disusul anak-anak remaja dan orang-orang dewasa. Takbiran tidak hanya milik anak-anak kecil, namun juga milik segala generasi tanpa pandang usia.

Tiap RT membawa alat pengeras suara sendiri, sehingga suara takbir “Allahu Akbar” tak pernah terputus dari barisan terdepan sampai paling belakang sejumlah RT peserta takbiran. Benar-benar malam kemenangan. Malam umat Islam.

Selain itu, tiap RT menampilkan kreatifitas bermacam-macam sesuai tema yang diusung. Tema itu ada yang terkait dengan lebaran seperti ketupat atau simbol keislaman seperti ka’bah, namun juga ada yang di luar itu meskipun tujuannya baik, berisi seruan moral atau kritik sosial. Misalnya, RT O5 RW 02 pada malam itu mengusung tema Anti-Maksiat. Kreatifitas yang ditampilkan berupa hiasan suntikan raksasa. “Stop AIDS, Anti-Narkoba,” tulisan yang dibawa peserta takbiran. Diharapkan setelah Ramadhan berlalu, umat Islam terus bisa menahan diri dari godaan setan, tidak melakukan perbuatan tercela seperti mengonsumsi obat-obatan terlarang dan melacur.

RT 06 RW 01 mengusung tema Anti-Korupsi. Kreatifitas yang ditambilkan berupa gambar Nazaruddin ditarik seekor babi. “No Korupsi, No Babi Ngepet,” tulisan yang dibawa anak-anak kecil peserta takbiran. Rupanya masyarakat desa juga mengikuti pemberitaan Nazaruddin yang hari-hari ini sedang ramai dibicarakan banyak orang di negeri ini. Yang mereka tahu, Nazaruddin koruptor dan jangan ditiru. “Carilah rizki dengan cara yang halal!” pesan yang disampaikan RT 06 RW 01 melalui spanduk kecil yang dibawa anak-anak.

Saya (pakai peci putih) dan Heinrich

Takbiran Selasa Malam, 30 Agustus 2011 itu juga membuat seorang bule berdecak kagum. Bule itu bernama Jan Heinrich, berkebangsaan Jerman yang sedang mengikuti Program Voluntary Service di MTs Negeri Winong. Ia tidak hanya puas menjadi penonton, tapi malah bergabung menjadi peserta di barisan RT 05 RW 02, dengan mengenakan sarung dan kemeja lengan pendek.

“That’s my great experience… first time in my life…(pengalaman luar biasa, pertama kali dalam hidup saya),” ungkap Heinrich.