Tag

, ,

Untuk yang kesekian kalinya saya harus kagum dan angkat topi setinggi-tingginya kepada KH Nur Rohmat, Pengasuh Pesantren Al-Istianah Plangitan Pati. Rasa kagum saya kali ini lantaran ia bersama para santri menggelar upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI ke-66 di halaman pesantren pada Rabu, 17 Agustus 2011.

Ternyata, upacara kemarin lusa bukanlah upacara yang pertama kali digelar, namun sudah menjadi kebiasaan atau rutinitas setiap tahun. Memang upacaranya tidak sedisiplin upacara di instansi-instansi pemerintah. Pesertanya tidak serapi peserta upacara pada umumnya. Peserta upacara di Pesantren Al-Istianah mengenakan kopiah, sarung dan sandal kropak. Meskipun demikian, tidak mengurangi kekhidmatan jalannya upacara.

Tujuan Yai Nur, sapaan santri kepada KH Nur Rohmat, menyelenggarakan upacara 17 Agustus adalah untuk menanamkan jiwa kebangsaan dan nilai-nilai perjuangan kepada santrinya, seperti diberitakan http://pasfmpati.com.

Menurutnya, hormat kepada Bendera Merah Putih untuk menjaga keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi hal yang penting. Karena perintah untuk mewujudkan keamanan dan kedamaian itu sesuai dengan ajaran Islam yang pada dasarnya agama rahmah.

Dengan demikian, mengangkat tangan pada pelipis mata sambil menatap Sang Dwi-Warna bukanlah perbuatan syirik atau bentuk penyembahan kepada selain Allah, namun perbuatan itu sebagai ekspresi kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena bendera adalah perlambang atau simbol identitas wujud eksistensi bangsa dan negara.

Mengenal Sosok Yai Nur

KH Nur Rohmat, 3 Juni 2011

Pertama kali saya mengenal nama Yai Nur adalah saat saya duduk di kelas 1 Madrasah Tsanawiyah (setingkat SLTP) Tarbiyatul Banin Winong Pati, sekitar tahun 1990. Ketika itu, saya menghadiri pengajian di desa saya yang disampaikan Yai Nur. Apakah peringatan Maulid Nabi atau Isra’ Mi’raj, saya lupa. Isi ceramahnya menyegarkan. Tidak melulu berbicara mengenai halal dan haram. Ia bisa mengemas materi agama dengan mengaitkan persoalan kekinian dan tentu juga disertai humor-humor yang mencerdaskan kehidupan bangsa.

Setelah pengajian tahun 1990 itu, saya tidak tahu lagi berita Yai Nur. Baru pada tahun 2000, secara tak sengaja saya sowan ke kediaman kyai yang saya kagumi itu di pesantrennya. Saya benar-benar terkesima dengan kyai tersebut. Badannya tinggi tegap, gagah dan pakaiannya menggunakan jubah plus blangkon, seperti Sunan Kalijaga.

Sejak pertemuan itu, saya semakin sering ke sana. Saya perhatikan pesantren yang dikelola Yai Nur sangat bagus, padahal usia pesantren tersebut masih baru, sekitar pertengahan 90-an baru didirikan.

Lokasi pesantren itu hanya berjarak sekitar 1 km dari tempat pelacuran ‘Mblethek’. Banyak yang mencibir Yai Nur saat pertama kali membuka pengajian di kawasan itu. “Paling dua minggu juga tutup,” komentar miring warga setempat.

Dari santri yang awalnya hanya berjumlah 5 orang, pelan-pelan bertambah satu dua sampai tahun 2000 mencapai 200-an. Semua santri tidak ada yang dikenakan biaya, alias gratis. Yai Nur menyewa sawah yang cukup luas di belakang pesantrennya. Di luar jam-jam mengaji, semua santri turun ke sawah untuk menggarap lahan pertanian itu. Begitu panen, mereka juga yang menikmatinya. Dari santri, oleh santri dan untuk santri.

Daerah Plangitan memang ideal pertaniannya. Airnya berkecukupan, sehingga dalam setahun bisa panen 3 kali, berbeda dengan Pati Selatan tempat saya tinggal. Airnya susah dan hanya mengandalkan air hujan. Sudah berganti beberapa kali bupati, dan selalu mencanangkan Program “Basahi Pati Selatan”, namun sampai sekarang kawasan itu tidak juga basah. Tak heran bila, warga sekitar saya tinggal lebih memilih merantau ke Malaysia jadi TKI Ilegal daripada menunggu perak jatuh dari langit yang tak kunjung datang.

Suatu hari saat saya sowan ke Yai Nur, ia mengatakan, “Besok ini mau Maulid Nabi, saya tidak membuat lomba MTQ karena paling-paling yang jadi pesertanya santri-santri saya juga. Tapi, saya buat pucang (sejenis panjat pinang), biar warga setempat bisa ikutan. Saya suruh santri untuk menguras seluruh kolam lele dan nanti kita makan besar,”

Di lain waktu, datang musim panen jagung. Yai Nur menyuruh santri-santrinya untuk membagikan jagung-jagung itu ke seluruh warga desa. Tak boleh ada satu rumahpun yang kelewatan. Tiap rumah diberi 5 potong jagung. Dan, kantor-kantor yang jadi mitra pesantren juga kebagian. Misalnya, kantor Kecamatan Pati Kota dikasih 5 karung jagung, kantor Polwil Pati dikasih 10 karung, dan lainnya.

“Yai, kok jagungnya malah dibagi-bagikan, kan pupuknya saja mahal, gimana kita dapat untung?” tanya seorang santri kepada Yai Nur suatu ketika.

“Ya ini yang namanya berjuang,” jawab kyai berwajah ganteng itu.

Yai Nur menanamkan santri-santrinya jiwa entrepreneurship (wiraswasta). Santri diajari pertanian dan kerajinan tangan. Santri dilatih memahat atau mengukir, mengaduk semen dan memasang keramik, sampai masjid pesantren itu pun hasil sentuhan tangan santri-santri sendiri.

Ukiran Ayat Kursi karya santri KH Nur Rohmat

Hubungan pesantren dengan masyarakat setempat sangat akrab, membaur dan menyatu. Tidak ada sekat. Tidak ada tembok Berlin yang menghalangi santri untuk bergaul dengan masyarakat. Itulah sebabnya, tanaman di sawah milik pesantren selalu aman-aman saja. Kalaupun ada pencuri, santri tidak perlu gusar, karena warga yang melihat akan mengatakan, “Kenapa Kamu mencuri, minta saja pasti dikasih,”

Yai Nur mendidik santri-santrinya untuk mandiri. Berdiri di atas kaki sendiri. Ia menciptakan suasana pesantren yang tidak elitis bak menara gading yang membentang di antara gubuk-gubuk reot, sampai-sampai ia lebih memilih panjat pinang untuk memperingati hari besar keagamaan, daripada lomba MTQ. Betul-betul inklusif.

Yai Nur tahu zina itu haram, tapi ia tidak bakar rumah-rumah pelacuran di sekitar pesantrennya. Ia bukan lulusan Al-Azhar Kairo. Tapi ia bisa menghayati ajaran Al-Azhar untuk bersikap tasamuh (teposeliro) atau toleransi.

Misalnya, Al-Azhar tetap membiarkan Tari Perut hidup di tengah-tengah negeri yang berdasarkan Islam itu. Al-Azhar tidak memberangusnya dengan mengajukan Rancangan UU Antipornografi dan Pornoaksi kepada Pemerintah. Al-Azhar mentoleransi masjidnya dimasuki oleh para turis yang cuma membalut tubuhnya dengan sehelai kain yang tipis dan terbuka auratnya. Al-Azhar tidak menghancurkan patung-patung peninggalan Fir’aun, tapi tetap melestarikannya.

Yai Nur dan pesantrennya banyak membawa manfaat bagi masyarakat sekitar. Tidak sedikit warga Plangitan yang berubah menjadi lebih baik sebagai dampak positif Yai Nur. Misalnya, mereka yang dulunya pecandu judi, sekarang sudah talak 3 dengan segala jenis perjudian. Malah sekarang mereka menjadi jamaah masjid yang setia. Minuman keras dan pelacuran juga sudah mulai menyingkir dari wilayah Plangitan, berkat kegigihan Yai Nur dalam mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar. Dan, semua itu dilakukan dengan damai tanpa menggunakan cara-cara kekerasan dan anarkis.

Semoga figur seperti Yai Nur Rohmat semakin banyak bermunculan di negeri ini.