Suatu ketika saya mengajak istri saya makan Nasi Gandul di Pati. Istri saya penasaran dengan makanan khas Kota Kacang Dua Kelinci itu. Selama ini ia hanya mendengar cerita saya dan belum pernah menikmati sendiri.

Saya lihat istri saya makan dengan lahapnya. Sepertinya ia suka sekali, namun saya perlu memastikan apakah betul Nasi Gandul enak menurutnya. “Bagaimana rasanya?” tanya saya.

“Mantap… Enak tenan,” jawabnya.

Saya juga setuju dengan penilaian istri saya. Nasi Gandul memang enak dan luar biasa rasanya.

Setelah selesai makan, tibalah saatnya membayar. Wajah istri saya berubah drastis begitu Sang Penjual Nasi menyebutkan harga yang harus kami bayar. Cepat-cepat saya berikan sejumlah uang, biar tak mengundang tanda tanya dari Penjual Nasi.

Di tengah jalan dalam perjalanan pulang saya tanya lagi istri saya, “Bagaimana, enak Nasi Gandul?”

“Nggak,” jawabnya singkat.

“Kok nggak? Tadi katanya enak dan mantap?”

“Habis mahal sich harganya,”

“Lho, apa hubungan rasa dengan harga? Apa semua makanan yang enak syaratnya harus murah? Sebaliknya, yang nggak enak itu karena harganya mahal?”

Setelah kejadian itu, saya punya pengalaman lagi bersama istri saya terkait dengan bagaimana menilai sesuatu. Ini terjadi pada waktu digelar Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (KKEI) di  Ballroom Diamond Convention Centre Solo tanggal 22-26 Juni 2011.

Pada waktu talkshow yang disampaikan Ustadz Halilintar (Pebisnis Internasional), istri saya tampak kagum dengan beliau. Kalau Aburizal Bakrie atau Surya Paloh punya bisnis besar, itu wajar. Tapi jika seorang ustadz fasih membahas perekonomian umat, memiliki usaha di Australia, bahkan mempekerjakan warga Australia, itu luar biasa.

Dari awal talkshow sampai jelang berakhir, saya perhatikan istri saya tak henti-hentinya mengagumi Ustadz Halilintar. Tapi, lagi-lagi penilaian istri saya itu berubah 1800 setelah tahu bahwa Ustadz itu mempunyai istri lebih dari satu. Gara-gara poligami, istri saya menilai negatif seorang ustadz yang pada awalnya ia kagumi.

Dua kisah ini menggambarkan realitas kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Banyak orang menilai sesuatu secara subyektif, bukan obyektif.

Tiap hari kita disuguhi pemberitaan yang beraneka ragam. Ada yang benar, akan tetapi ada yang sekedar gosip atau isu. Karena itu, di tengah-tengah kebebasan pers seperti saat ini, kita sebagai penikmat berita harus benar-benar mampu menilai berita secara obyektif. Jangan sampai kita terjerumus atau hanyut dalam isu yang tidak benar.

Firman Allah:

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kelompok menjadikanmu berbuat tidak adil” (Al-Maidah: 8).

Ayat ini menyerukan supaya kita berlaku adil. Jangan sampai karena kita benci atau tidak suka terhadap seseorang lantas kita menilainya dari sisi buruknya, dan sama sekali tidak mau melihat kelebihannya.

Seperti contoh di atas, karena harganya mahal menurut ukuran kita (padahal belum tentu mahal bagi orang lain), kita lalu menilai makanan itu tidak enak. Karena seseorang mempunyai istri lebih dari satu, kita enggan mengakui kelebihannya. Karena dilandasi kebencian, kerapkali kita menilai buruk seseorang tanpa mau tahu sisi baiknya.

Nabi Muhammad pernah berpesan kepada Ali bin Abu Thalib:

يا علي إذا جلس إليك الخصمان فلا تقض بينهما حتى تسمع من الآخر كما سمعت من الأول ، فإنك إذا فعلت ذلك تبين لك القضاء

“Ya Ali, jika duduk di antaramu dua pihak yang beperkara, maka jangan sekali-kali kamu putuskan perkara keduanya sebelum kamu dengar informasi dari pihak kedua sebagaimana kamu dengar dari pihak pertama. Jika kamu lakukan demikian, maka akan tampak bagimu hukumnya”

Hadits ini awalnya khusus untuk Ali bin Abu Thalib, namun juga berlaku untuk semua umat Muhammad. Bahkan, bisa dikembangkan lebih jauh lagi, bahwa jika kita dihadapkan dengan informasi dari seseorang yang berisikan tuduhan atau dakwaan kepada orang lain, maka janganlah kita makan mentah-mentah informasi itu secara sepihak tanpa kita mendengar konfirmasi dari pihak yang dituduhkan.

Seringkali kita baca di koran, majalah dan internet atau kita dengar radio atau kita lihat TV, pemberitaan yang memuat tudingan seseorang kepada pihak lain. Nah, sikap yang tepat kita ambil adalah menunggu konfirmasi dari pihak yang dituding itu, apakah benar atau tidak tudingan yang dialamatkan kepadanya. Jangan sampai kita menilai secara sepihak, karena itu tidak adil.

Hadits Rasulullah:

لو يُعطى الناس بدعواهم ، لادّعى رجالٌ أموال قوم ودماءهم ، لكن البيّنة على المدّعي

“Sekiranya dakwaan manusia itu dipenuhi hanya didasarkan dakwaan semata, pastilah mereka akan mudah melakukan dakwaan (tuduhan) kepada orang lain, baik menyangkut soal harta maupun nyawa. Padahal bagi orang yang mendakwa itu ada kewajiban untuk mendatangkan bukti-bukti.”

Hadits ini menegaskan bahwa orang yang menuduh pihak lain telah mencuri hartanya atau membunuh keluarganya, tidak serta-merta dibenarkan tuduhannya. Harta pihak lain yang diklaim menjadi milik orang tersebut bukan berarti bisa diambil begitu saja dengan mengandalkan klaim, tuduhan atau dakwaan. Tapi, orang yang mendakwa itu harus mampu membuktikannya. Ia harus memiliki bukti-bukti.

Karena itu, kita jangan mudah percaya mendengar orang yang mengklaim ini-itu dan menuduh orang lain melakukan ini-itu, tanpa dibarengi dengan bukti-bukti. Jangan kagetan lan gumunan, melihat orang yang suka “cuap-cuap” dan mengobral omongan di media, lalu memperlakukannya sebagai sebuah kebenaran.

Kita harus bersikap dan berlaku adil kepada siapapun. Posisi kita menghadapi pemberitaan yang seliweran di depan kita, seperti hakim menghadapi perkara. Kita harus adil menilai kebenaran setiap berita. Jangan karena benci, kita tidak bisa obyektif menilai. Jangan hanya membaca berita dari sudut pandang sebelah mata. Dan, jangan cepat menilai, menyimpulkan dan memutuskan hanya berdasarkan dakwaan sepihak tanpa didukung oleh alat bukti.