Mengenaskan. Itulah kata yang tepat dialamatkan kepada mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak saat diadili pada Rabu, 3 Agustus 2011. Mubarak terbaring di tempat tidur di dalam sebuah kerangkeng besi dengan wajah yang tampak pucak. Ia didampingi para terdakwa lainnya, termasuk dua putranya, Alaa dan Gamal, serta sembilan mantan pejabat pada masa pemerintahannya, antara lain mantan Menteri Dalam Negeri Habib Al Adly juga dihadapkan di pengadilan atas kasus yang sama.

Mantan orang kuat di kalangan dunia Arab, Islam dan Timur Tengah berusia 83 tahun itu didakwa melakukan korupsi dan memerintahkan pembunuhan 850 demonstran selama revolusi Mesir pada Januari hingga Februari lalu, dengan ancaman hukuman mati.

Sepertinya rakyat Mesir puas menyaksikan pemandangan itu. Rasa sakit hati dan kecewa yang diderita rakyat puluhan tahun lamanya terobati.

Selama di Mesir 2004-2009, saya sering katakan kepada istri saya bahwa gerakan massa penumbangan rezim di Mesir hanya tinggal menunggu waktu. Saat itu, saya merasakan suasana yang serupa dengan awal saya kuliah di Jakarta tahun 1996, yaitu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) merajalela, kekuasaan negara hanya dipegang oleh satu orang dan yang lainnya bersikap sami’na wa atho’na atau sendhiko dawuh, rakyat tidak boleh protes atau demonstrasi untuk mengemukakan pendapat di muka umum, siapa yang menentang atau melawan pemerintah akan ditangkap dan dipenjarakan dan semua pemberitaan (TV, radio, koran dan majalah) seragam menyampaikan yang baik-baik saja tentang pemerintah.

Dan, di mana-mana rakyat sudah menunjukkan rasa tidak suka kepada pemimpinnya. Hanya saja, waktu itu belum ada keberanian. Mereka masih takut. Mereka cuma berani bicara secara diam-diam. Terkadang mereka justru berani mengungkapkan isi hatinya kepada orang asing.

Pernah suatu saat saya naik taksi dan terjebak macet di jalanan Kairo. Sopir taksi marah dan kesal. Saya bertanya ada apa. “Biasalah. Presiden sedang lewat,” jawabnya dengan nada kesal.

“Coba pikir! Presiden kan punya holikopter. Mestinya ia pakai saja itu holikopter. Daripada naik mobil, jalanan ditutup, jadinya macet,” imbuhnya.

Saya mengangguk-anggukan kepala tanda setuju.

Sopir itu tak berhenti sampai di situ. Ia terus saja menumpahkan kekesalannya dan memaksa saya jadi pendengar setia. Ia malah menceritakan peristiwa jaman Khalifah Umar bin Khaththab. Menurutnya, pernah suatu ketika ada seorang utusan dari jauh datang ke Madinah. Utusan itu bertanya kepada seseorang di jalan, “Di mana Istana Khalifah?”

Orang tadi mengatakan, “Jalan saja ke arah sana! Nanti jika ketemu pohon rindang dan melihat ada orang yang tidur di bawahnya. Maka, orang itu adalah Khalifah.”

Utusan itu kaget dan tak percaya. Bagaimana mungkin seorang khalifah atau kepala negara untuk ukuran jaman sekarang tidak punya istana megah. Khalifah tidur di bawah pohon.

“Jadi, seorang presiden itu perlu meneladani Khalifah Umar bin Khaththab dalam hal kesederhanaannya. Jangan mentang-mentang presiden, ia bebas berbuat sesukanya. Ia minta dilayani. Ia paksa rakyatnya menunggu lama berpasan-panasan di bawah terik matahari, sedangkan ia lewat dengan leluasa menaiki mobil mewah ber-AC. Pemimpin macam apa itu,” begitulah kira-kira yang disampaikan Sopir taksi yang saya naiki beberapa tahun lalu di Kairo.

Memori itu kembali muncul saat orang yang dimaki-maki Sopir taksi itu sekarang berbaring tak berdaya menghadapi persidangan.

Kesamaan nasib Mubarak dan Soeharto setelah lengser

Selama hidupnya, Hosni Mubarak pernah dua kali berkunjung ke Indonesia. Pertama tahun 1979 sebagai Wakil Presiden dan kedua tahun 1983 sebagai Presiden. Sementara itu, pada masa pemerintahan Hosni Mubarak (1981-2011), Presiden-presiden Indonesia yang berkunjung ke Negeri Piramida adalah Soeharto (1998), Gus Dur (2000 dan 2001), Megawati (2002) dan SBY (2004). Presiden Habibie tak sempat berkunjung ke Mesir karena masa pemerintahannya cukup singkat dan lebih disibukkan dengan urusan dalam negeri.

Untuk mengetahui hubungan Indonesia-Mesir era Presiden Soeharto dan era Reformasi, silakan baca buku Potret Hubungan Indonesia-Mesir, terbitan KBRI Kairo 2009.

Pertemuan Terakhir Presiden Soeharto dan Presiden Mubarak di Kairo, 15 Mei 1998. Seminggu kemudian Presiden Soeharto mengundurkan diri. (Repro Potret Hubungan Indonesia-Mesir)

Menurut mantan Duta Besar Mesir untuk Indonesia, Said Kossem El Massry, sebagaimana dimuat Koran Mesir, Shorouk, 16 Juni 2011, ada beberapa poin kesamaan antara pemerintahan Soeharto dan Mubarak sebagai berikut:

  1. Keduanya Jenderal yang punya prestasi gemilang selama bertugas di Angkatan Bersenjata.
  2. Keduanya memimpin negara selama 3 dekade. Soeharto dari 1968 hingga 1998 dan Mubarak dari 1981 hingga 2011.
  3. Era keduanya ditandai dengan merebaknya KKN.
  4. Keduanya merencanakan mewariskan tahta kekuasaan kepada anaknya.
  5. Seluruh penyelenggaraan pemerintahan terpusat pada keduanya.
  6. Keduanya dipaksa lengser oleh kekuatan massa yang dipelopori para pemuda dan mahasiswa.

Kesamaan keduanya tidak saja saat memerintah. Setelah mengundurkan diri, keduanya bernasib sama. Sama-sama dihujat dan dimaki-maki oleh rakyatnya sendiri. Semua simbol kebesarannya dipreteli. Lebih dari itu, bahkan keduanya diadili. Bedanya, Soeharto tidak pernah sekalipun menghadiri persidangan karena alasan sakit. Sedangkan Hosni Mubarak secara gentle datang ke persidangan.

Meskipun tak sempat divonis bersalah oleh pengadilan, namun kehidupan Soeharto setelah lengser sampai meninggal dunia (1998-2008) tidaklah mengenakkan. Ia tidak leluasa menjalankan aktifitas, karena selalu disorot publik. Namanya selalu dikaitkan dengan segala kebrobokan di negeri ini. Sepertinya tak ada yang baik dari Soeharto.

Sementara itu, Hosni Mubarak baru menghirup udara di luar Istana selama 6 bulan. Peradilan sedang berjalan. Walaupun belum ada putusan yang menyatakannya bersalah, namun keadaan yang dialaminya sekarang teramat tragis. Apalagi sebagai mantan orang kuat yang cukup disegani di kalangan Arab, Islam dan Timur Tengah.

Ia harus menghadiri persidangan di Akademi Kepolisian Mesir yang dulu lembaga itu menggunakan namanya, Akadimiya Mubarak lil-Amn (Akademi Kepolisian Mubarak). Ia diadili oleh pejabat yang dulu tunduk dan memuja-mujinya, dan peradilan itu disaksikan oleh rakyat yang pernah disakitinya dan juga oleh jutaan pemirsa TV seluruh dunia, termasuk oleh kolega-koleganya sesama pemimpin negara. Mengenaskan.