Tag

,

Menjelang pengumuman awal Ramadhan 1432 H oleh Pemerintah RI, saya teringat pengalaman tiga tahun lalu di Kairo. Hari Sabtu 30 Agustus 2008, saya dan ratusan mahasiswa Indonesia di Mesir mengikuti Sidang Penentuan Awal Ramadhan 1429 H di Azhar Conference Center (ACC) Nasr City Cairo.

Sidang yang diselenggarakan Darul Ifta Al-Mishriyyah (Lembaga Fatwa Mesir) itu dihadiri oleh Gubernur Kairo Abdul Adhim Wazir mewakili Presiden Hosni Mubarak, Grand Syech Mohammad Said Tanthawi, Menteri Kehakiman Mamduh Mar’i, Menteri Wakaf Mahmud Hamdi Zaqzuq, Mantan Mufti Nasr Farid Washil, para ulama dan petinggi negara lainnya, serta para duta besar negara-negara Islam, termasuk Dubes RI di Mesir AM Fachir.

Kegiatan itu merupakan kegiatan pertamanya kali Darul Ifta menggelar Sidang Isbat secara terbuka dengan mengundang khalayak ramai. Mahasiswa Indonesia yang hadir diperkirakan mencapai 400 orang. Sebab, jumlah undangan yang dikeluarkan khusus mahasiswa Indonesia sekitar 200, dan tiap undangan bisa dihadiri dua orang.

Kawan akrab saya, Mas Ahmad Ghazali Assegaf, Lc adalah orang yang berjasa mengeluarkan undangan sebanyak itu. Gus Ghazali, alumni terbaik Pelatihan Fatwa Darul Ifta tahun 2007, saat itu bekerja di lembaga pimpinan Mufti Ali Gomoa sebagai penerjemah fatwa-fatwa Darul Ifta ke dalam bahasa Indonesia.

Lulusan Universitas Madinah tahun 2003 yang pernah mampir kuliah selama 2 tahun di IAIN Jakarta itu mampu meyakinkan Darul Ifta untuk mengundang mahasiswa Indonesia dengan jumlah yang tak sedikit. Undangan itu lalu dibagikan ke Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI), ICMI, NU, Muhammadiyah dan organisasi-organisasi mahasiswa Indonesia lainnya di Mesir.

Gus Ghazali berharap mahasiswa Indonesia bisa menyaksikan pengambilan keputusan mengenai awal Ramadhan di Mesir. Harapan  mahasiswa Pascasarjana Al-Azhar dan Liga Arab itu disambut baik oleh Darul Ifta. Apalagi, beberapa waktu sebelumnya, dalam wawancara dengan salah satu buletin mahasiswa Indonesia, seorang ulama di Darul Ifta, Dr. Muhammad Syalabi mengaku keheranannya dengan perbedaan awal Ramadhan dan awal Syawal yang terjadi di Indonesia. “Bagaimana bisa terjadi perbedaan dalam satu negara. Bila terjadi perbedaan maka pemerintahlah yang berwenang memutuskan, dan keputusan pemerintah wajib ditaati oleh seluruh rakyat,” ujarnya.

Gedung Darul Ifta Al-Mishriyyah, kantor Mufti Mesir (Dok. Pribadi)

Acara sidang yang disiarkan secara live oleh televisi dan radio Mesir berlangsung cukup singkat. Dimulai sehabis shalat maghrib dengan diawali pembacaan ayat suci Al-Quran oleh qori terkenal Ahmad Ahmad Nu’aina’ dan dilanjutkan pembacaan keputusan Darul Ifta Mesir oleh Mufti Ali Gomoa lalu ditutup dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh qori yang sama.

“Darul Ifta setelah melakukan pengamatan terhadap bulan saat tenggelamnya matahari pada tanggal 29 Sya’ban sore ini, memutuskan bahwa bulan belum kelihatan, oleh karena itu, hari Ahad tanggal 31 Agustus 2008 adalah hari terakhir bulan Sya’ban, digenapkan 30 hari. Dan, awal Ramadhan jatuh pada hari Senin, tanggal 1 September 2008,” kata Mufti Ali Gomoa.

Mufti Mesir itu sebelumnya menyebutkan dalil syar’i yang dijadikan rujukan oleh Darul Ifta dalam pengambilan keputusan, yaitu ayat “Barangsiapa di antara kalian melihat bulan maka hendaklah berpuasa” dan hadits “Berpuasalah apabila kalian melihat hilal (bulan Ramadhan) dan berbukalah (lebaran) apabila kalian melihat hilal (bulan Syawal), dan apabila tertutup awan (mendung) maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari”.

Dari Kanan: saya (pakai peci hitam), Pak Bukhori, Pak Saifuddin, Pak Hudallah dan Pak Mahmudi

Menanggapi keputusan Darul Ifta mengenai awal Ramadhan, kawan saya yang lain, Mas Bukhori Sail Attahiry, Lc yang hadir bersama saya ketika itu mengharapkan agar Indonesia bisa belajar dari Mesir. “Bila Mufti Mesir sudah memutuskan, semua rakyat dari segala macam golongan, mematuhinya. Tidak ada di Mesir awal puasa berbeda-beda seperti di Indonesia,” katanya, saat mentraktir saya dan kawan-kawan minum jus koktail di Kedai Jus Buah sepulang dari ACC Nasr City.