Saat Pamitan dengan Duta Besar AM Fachir di KBRI Cairo

Saya meninggalkan Mesir pada Jumat 11 September 2009. Sejak itu saya tak pernah bertemu dengan Pak Fachir. Beberapa kali beliau pulang ke Tanah Air dalam rangka tugas, namun saya tak pernah menemuinya. Saya tak mau mengganggu kegiatan beliau.

Jumat, 10 Juni 2011, Pak Fachir beserta keluarga meninggalkan Mesir setelah masa tugasnya sebagai Kepala Perwakilan RI di Mesir, berakhir. Tanpa menunggu istirahat yang lama, Rabu, 15 Juni 2011 Pak Fachir sudah muncul di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Beliau menjadi pembicara utama pada Seminar Nasional “Gerakan Rakyat untuk Perubahan: Perkembangan Politik Domestik Mesir dan Negara-negara Timur Tengah Lainnya (Pembelajaran dari Timur Tengah)”.

Saya hadir pada seminar tersebut, karena sehari sebelumnya Pak Fachir memberitahu saya melalui sms. Saya ikuti seminar sampai selesai lalu berbincang-bincang dengan Pak Fachir. Memang tidak lama perbincangan kami, karena beliau sedang menjadi tamu UNS, jadi saya cukup membatasi pembicaraan dan memberikan kesempatan kepada pihak kampus, meskipun sebenarnya saya berharap bisa lebih lama lagi bersama Pak Fachir, orang yang sudah saya anggap seperti orang tua dan guru.

Saya tidak kecewa hanya sebentar bertemu Pak Fachir di UNS. Tak dinyana-nyana, saya malah bertemu dengan kawan lama saya. Namanya Arifuddin Arifin. Ia lulusan MA Al-Azhar dan belum lama ini diterima sebagai PNS Dosen Sastra Arab pada Fakultas Sastra UNS. Saya cukup bangga dengan prestasinya itu. Ia sempat bercerita bahwa setelah lulus S2, ia sebenarnya ingin tetap bertahan di Mesir untuk melanjutkan S3. Ia mendaftar lokal staf KBRI Cairo, tapi tidak lulus. Akhirnya, ia memilih pulang ke Tanah Air.

Bersama Ibrahim Okah (mahasiswa FISIP UNS asal Palestina) dan Arifuddin Arifin di ruang seminar

Pagi harinya, Kamis, 16 Juni 2011, Pak Fachir menghubungi saya melalui sms, “Kita sarapan jam 8 di Hotel Sunan,” tulis beliau. Segera saya meluncur ke hotel bintang 4 itu. Kami berdua cukup lama membicarakan banyak hal, sebagaimana dulu sering kami lakukan semasa sama-sama di Kairo. Dari hal yang serius sampai urusan kecil, termasuk membahas keluarga.

Kami baru beranjak dari ruang makan setelah Pak Sangidu, Atase Pendidikan KBRI Cairo, datang menjemput Pak Fachir untuk melanjutkan kegiatan berikutnya di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Saya antar Pak Fachir dan Pak Sangidu sampai teras hotel, lalu saya pun kembali ke rumah.

Berikut ini adalah sebagian catatan saya terhadap Pak Fachir. Catatan lainnya bisa dibaca di Buku Testimoni Mengenang Dubes AM Fachir terbitan KBRI Cairo 2011.

Dari penampilan sekilas akan tampak bahwa Pak Fachir adalah sosok pejabat yang low profile, sederhana dan apa adanya. Kesan saya terhadap beliau itu tak pernah berubah sejak pertama saya mengenal beliau sampai pertemuan terakhir di Solo beberapa waktu lalu. Beliau berprinsip “jalani hidup apa adanya” dan tidak usah memaksakan diri, seperti syair lagu D’Masiv, “Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini. Melakukan yang terbaik.”

Pernah suatu ketika Pak Fachir berpesan kepada saya, “Kalau ga punya uang, ya ga usah bercita-cita pergi ke Alexandria. Kalau uang belum di tangan, tak usah berkhayal membeli sesuatu. Hidup akan terbebani. Kalau hidup terbebani maka mudah tergoda melakukan hal-hal yang tidak baik. Dan, jangan suka berutang. Itu memaksakan diri.”

Kita bisa melihat berapa banyak pejabat melakukan korupsi, di antara motivasinya adalah untuk memenuhi keinginan-keinginannya. Dengan gaji yang pas-pasan, mereka menghimpun daftar keinginan. Mereka tidak sadar dengan kemampuannya. Mereka tidak mau mensyukuri apa yang ada. Akibatnya, hidup mereka tidak tenang karena terbebani. Suatu hari saya bertanya Pak Fachir, “Apakah Bapak tidak terlibat dalam korupsi yang menjerat Mantan Duta Besar RI di Malaysia, karena Bapak pernah menjadi Wakil Duta Besar mendampingi beliau?”

“Ya… saya pernah tiga kali menerima uang dalam amplop tertutup yang disodorkan seorang pegawai di KBRI Kuala Lumpur. Waktu pegawai itu datang ke ruangan saya pertama kali, saya tanya uang apa ini? Ia menjawab, ini kebiasaan di sini, Pak. Saya simpan saja uang itu tetap di meja. Sampai yang ketiga kalinya, saya katakan kepada pegawai itu. Begini, ini uang masih utuh 3 amplop. Ambil saja! Saya tidak butuh. Gaji saya masih cukup untuk men-cover kebutuhan hidup saya bersama keluarga. Sejak saat itu, pegawai yang membagi-bagikan uang tidak lagi singgah ke ruang saya,” cerita Pak Fachir.

Pak Fachir tidak mau mengambil barang yang bukan haknya. Apalagi, di kemudian hari terungkap bahwa uang yang dibagi-bagikan itu ternyata hasil perasan keringat TKI/TKW di Malaysia. Hati nuraninya bicara. Alangkah nistanya orang yang tega memakan jerih payah saudaranya sendiri di rantau.

Begitu Pak Fachir ditunjuk sebagai Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Kuala Lumpur, beliau langsung memotong birokrasi pembuatan paspor yang panjang dan koruptif. Pembuatan paspor yang biasanya selesai 30 hari akhirnya menjadi 3 hari saja. Bahkan beliau juga menggusur ruang parkir menjadi loket agar TKI/TKW tidak perlu antre lagi. Beliau katakan kepada para pegawai KBRI, “Karena mereka (TKI/TKW) kita ada di sini, maka perlakukan mereka secara layak!”

Saya suka dengan prinsip Pak Fachir untuk tidak membawa pulang uang haram ke dalam rumah, apalagi untuk dimakan keluarga. Karena itu, saya sangat berhati-hati terhadap uang yang bukan milik saya sendiri, apakah itu uang rakyat atau uang negara atau uang umat. Saya sering bertanya, “Uang apa ini?” Saya selalu siapkan jawaban sewaktu-waktu istri saya bertanya, “Min Aina Laka Hadza?” (Darimana Kau Dapatkan Ini)?”

=================

Berita seminar bisa dibaca di kompasiana.com dan atdikcairo.org