Tulisan ini saya buat pada September 2008 saat di Kairo.

===========================

Hari ini Senin, 1 September 2008 adalah awal puasa Ramadhan 1429 H. Saya melaksanakan shalat dzuhur di Masjid Husein di sebelah Masjid Azhar Kairo. Kemudian saya ke Kantor Jurnal Shout al-Azhar. Dan, sebelum pulang, saya singgah ke Maktabah Halaby, dekat Madinah al-Bu’uts al-Islamiyah. Saya ditemui pimpinan penerbit, Samir Halaby yang tidak lain adalah cucu dari pendiri penerbitan tersebut, Musthofa Halaby.

Saya ditunjukkan daftar buku yang diterbitkannya dalam bahasa Jawi. Yang dimaksud Jawi di sini menunjuk kepada bangsa Melayu. Indonesia, Malaysia dan negara sekitarnya. Jumlah buku itu mencapai 80-an.

Di antaranya, ada buku “Tamrin Shibyan fi Bayan Arkan Islam wa Iman,” karya Ibnu Muhammad Thayyib al-Mas’udi al-Banjari. Halaman pertama buku ini berbunyi, “Ketahui olehmu bahwasanya rukun Iman itu enam perkara. Pertama, wajib percaya kita dengan Allah. Kedua, wajib percaya kita dengan segala malaikat-Nya. Ketiga, wajib percaya kita dengan segala kitab-Nya. Keempat, wajib percaya kita dengan segala rasul-Nya. Kelima, wajib percaya kita dengan hari yang kemudian. Keenam, wajib percaya kita dengan untung baik dan jahat itu daripada Allah Ta’ala…

Selain itu, ada buku berjudul, “I’tikad Ahlus Sunnah wal Jamah” Tertulis di cover buku: Inilah Kitab Ushuluddin “I’tikad Ahlus Sunnah wal Jamah” yang telah dikarang oleh hamba yang dhaif, Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Jawi al-Betawi al-Bogori, yang bermukim di dalam Mekah al-Musyarrofah, yang mengajar di Masjidil Haram. Kitab ini diterbitkan pada bulan Dzulhijjah 1340 H atau bertepatan dengan bulan Agustus 1921 M.

Lalu saya bertanya kepada Pak Samir yang asli warga negara Mesir itu,

“Apa Bapak paham bahasa kitab-kitab Jawi ini?”
“Tidak,” jawabnya.
“Apakah Kakek Bapak paham bahasa kitab-kitab ini?”
“Tidak,”
“Lha, kenapa menerbitkan? ”
“Hanya karena bisnis semata,”
“Apakah ada orang Mesir yang membeli buku-buku ini?”
“Tidak, yang beli ya orang-orang Indonesia, Malaysia, Melayu,”
“Apakah ada penerbit Indonesia yang tertarik membeli copyright buku-buku ini?”
“Tidak,”
“Apakah Bapak akan terus menerbitkan buku-buku Jawi ini?”
“Tidak, begitu sudah habis, ya sudah, kami tak akan terbitkan lagi,”
“Oooooo…,” komentar saya kemudian.

=======================

Tulisan ini bisa dibaca juga di detik.com