Tulisan ini saya buat Februari 2008 ketika di Kairo. Kembali saya tampilkan untuk mengenang peristiwa bersejarah itu. Selamat membaca!!!!

============================

Foto Khitanan Anak Saya

Saya mengkhitankan anak saya saat usianya 20 hari. Awalnya istri saya tidak tega dan merasa iba. “Kasihan, masih kecil,” batinnya. Namun perasaan itu menjadi luluh tatkala membayangkan putranya sudah disunat. Berarti satu tanggung jawab sebagai orang tua telah ia tunaikan. “Kalau Fayad sudah disunat, kita jadi tenang dan tidak mikir lagi nantinya di Tanah Air,” kata saya meyakinkan istri yang disambut dengan anggukan kepala.

Rencana mengkhitan lalu disampaikan ke keluarga di Pati dan di Karawang. Keluarga Pati langsung setuju dan bangga mendengar niat baik itu. Sementara Keluarga Karawang sempat menawar agar dikhitan nanti saja di Tanah Air. “Disunat nanti saja, di Tanah Air biar bisa dirayakan,” alasannya. Saya tersenyum membaca sms ibu mertua. Tapi, akhirnya beliau menyerahkan yang terbaik kepada kami yang baru beberapa hari menjadi orang tua.

Pada umumnya, tradisi di Karawang anak disunat setelah masuk SD. Sebelum disunat, anak itu akan diarak keliling kampung memakai pakaian adat seperti Gatotkaca sambil naik odong-odong diiringi musik. “Kita tinggalkan adat-istiadat seperti itu,” kata saya, “jadikan sunat adalah hal yang biasa-biasa saja, begitu anak lahir ya segera disunat,”

Tepat hari Ahad, 17 Februari 2008 sehabis shalat maghrib, saya gendong anak saya yang ketika itu masih tidur pulas berangkat ke klinik Sektor 7 (Hay Sabi’) Nasr City Cairo, bersama istri serta Mas Saifuddin dan anak istrinya menaiki taksi. Hanya 10 menit perjalanan dari rumah ke klinik.

Ternyata, dokter yang mau mengkhitan belum datang. “Pukul 09.00 dokter baru akan sampai sini, tunggu saja!” kata petugas jaga yang juga tempat membayar biaya khitan. “Berapa biaya khitan?” tanya saya.

“Umur berapa?” jawab petugas itu dengan pertanyaan.

“Dua puluh hari,” kata saya.

“50 Pounds, kalau lebih dua bulan biayanya 60 Pounds,” jawabnya. Berarti benar kata teman saya bahwa ada pembedaan harga sesuai perbedaan usia anak. Sebelumnya, teman saya mengingatkan lebih baik dikhitan usia masih kecil karena biayanya murah. “Jika disunat lebih setahun dianggap seperti orang dewasa, jadi istilahnya seperti operasi, perlu pesan kamar,” katanya.

Di klinik itu anak saya masih lelap dalam pelukan saya. Sambil nonton TV saya asyik berbincang-bincang dengan Mas Saifuddin, kandidat Magister Al-Azhar. Ada saja yang kami perbincangkan.

“Itu dokternya datang, masuk saja!” pinta petugas yang tadi menyuruh saya menunggu.

Setelah mengucap salam, saya membawa anak saya masuk ke ruangan dokter yang baru saja datang. Anak saya masih nyenyak tidur, diletakkan di atas ranjang. “Ini umurnya 20 hari, Dok,” kata saya menjelaskan.

“Itu bagus. Khitan usia dini semakin bagus demi kesehatan,” jawab dokter itu sambil berdiri menghampiri almari yang berisi peralatan medis.

Saya semakin mantap mendengar langsung dari mulut dokter mengenai baiknya khitan usia dini. Saya jadi ingat cerita kawan yang mengkhitan anaknya usia 36 hari. “Ini sudah dewasa,” komentar dokter yang mau mengkhitannya. Maka, saya tak mau dikomentari seperti itu.

“Kamu darimana?” tanya dokter.

“Indonesia, Dok,” jawab saya.

Saat dokter mulai mengeluarkan gunting, silet dan peralatan khitan, nampak seorang ibu setengah tua masuk ruangan mendekati anak saya. Rupanya ibu itu biasa membantu dokter. Ia membuka pakaian anak saya satu per satu.

“Kamu boleh menunggu di sini,” kata dokter kepada saya yang mau beranjak keluar ruangan. Saya lalu ajak Mas Saifuddin untuk menemani menyaksikan khitan anak saya.

Anak saya menangis sangat keras begitu merasakan ada goresan benda tajam di ujung kelaminnya. Tanpa pengantar ini dan itu, dokter langsung memotongnya. Saya menunduk tak kuasa melihat kondisi anak saya yang terus menangis. “Wah, dahsyat sunat di sini,” kata Mas Saifuddin, “tidak pakai obat bius, langsung dipotong begitu saja,”

Istri saya dan istri Mas Saifuddin yang menunggu di luar ikut menangis. “Kalau aku punya anak laki-laki, disunatkan nanti saja saat sudah besar,” bisik Istri Mas Saifuddin begitu mendengar tangisan anak saya yang berkepanjangan dari dalam ruangan. Istri saya ikut larut dalam kesedihan melihat putranya sangat pulas tidur tiba-tiba disunat.

“Sampeyan dulu sunat kelas berapa, Mas?” tanya saya kepada Mas Saifuddin di tengah tangisan anak saya untuk mengalihkan perhatian biar tidak tegang.

“Aku sunat kelas xxx, disembelihkan kerbau dan dirayakan dengan kethoprak,” jawabnya.

“Wah, ternyata Sampeyan lebih tua dari saya. Saya disunat kelas xxx. Saya pikir itu sudah sangat besar. Rupanya masih ada yang lebih besar,” komentar saya

“Sudah selesai,” kata dokter, “bawa ke ibunya biar disusui!”

Alhamdulillah, meskipun anak saya terus menangis, tapi saya bangga sebagai orang tua telah melaksanakan kewajiban agama.