Tag

Tulisan ini saya buat sekitar September 2008 saat saya masih di Kairo dengan judul asli Poligami Aa Gym vs Bung Karno. Lalu saya kirim ke beberapa milis. Sebagian pembaca ada yang me-copas di blognya sehingga kalau Anda search di google, akan menemukan tulisan di bawah ini. Selamat membaca kembali!!!
===================

Ramadhan tahun ini adalah kali kelima saya di Negeri Fir’aun. Terakhir saya menikmati Ramadhan di kampung halaman yaitu tahun 2003. Kala itu sedang puncak-puncaknya karir Aa Gym sebagai da’i. Selama Ramadhan hampir seluruh TV menyiarkan ceramah pengasuh Darut-Tauhid Bandung itu. Ada yang berupa kuliah shubuh, kultum menjelang buka puasa, tadarusan setelah taraweh, dll.

Apakah Ramadhan tahun ini, Aa Gym masih mendapat tempat di TV-TV..? Kabarnya, setelah menikah lagi, pamor Aa Gym jadi redup. Order ceramahnya tidak hanya menurun tapi benar-benar tak ada. Apakah betul itu karena poligami..??

Seminggu yang lalu saya mengunjungi Kantor Koran Harian Mesir Akhbar El Yom untuk kepentingan riset. Setelah membolak-balik banyak berita tentang Indonesia, saya dikejutkan dengan headline berita tertanggal 24 September 1955 yang ditulis dengan tebal, “Ceraikan Istri Keduamu, atau Mundur dari Jabatan Presiden”. Di bawahnya ada sub-judul “Perdana Menteri Indonesia berjanji akan menyampaikan masalah istri presiden di hadapan sidang kabinet”.

Perempuan-perempuan Indonesia tadi malam meminta perdana menteri agar memberi peringatan kepada Presiden Soekarno dengan mengatakan, “Ceraikan Istri Keduamu, atau Mundur dari Jabatan Presiden”. Perdana menteri berjanji akan menyampaikan masalah penting ini kepada kabinet dalam sidang pertamanya.

Presiden Soekarno menegaskan bahwa dirinya menolak campur tangan perdana menteri. Ia lebih memilih meninggalkan jabatannya sebagai presiden dan tidak akan menceraikan istri keduanya yang cantik. Nampak foto istri kedua presiden, Hartini.

akhbar jadid by you.

Jadi, apa yang menimpa Aa Gym itu bukan hal baru. Dulu tahun 1955, Bung Karno pun menerima perlakuan serupa dari publik Indonesia. Bedanya, istri Aa Gym setia menerima pernikahan kedua Aa Gym, sedangkan Bu Fatmawati tidak. Bu Fatmawati minta cerai dan segera keluar dari istana begitu tahu ia dimadu. Ia bangun rumah di Jalan Sriwijaya yang sekarang ditempati putra bungsunya, Guruh Soekarnoputra.

Bu Fatmawati benar-benar sakit hati. Ia pernah diajak Bung Karno pergi haji dan ajakan itu ditolak. Dan, saat Bung Karno meninggal dunia tahun 1970, Bu Fatmawati tidak mau melihat jenazah suaminya.

Bu Fatmawati tidak kenal poligami. Dulu, tatkala masih di Bengkulu, Bung Karno melamarnya. Ia mau menerima lamaran denga syarat, “Selesaikan dulu urusan Bapak dengan Bu Inggit!”

Bung Karno pun menceraikan terlebih dulu Bu Inggit baru menikahi Bu Fatmawati. Maka, ketika Bung Karno menikah lagi dengan Bu Hartini, Bu Fatmawati minta cerai. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Bung Karno. Jadinya, hubungan Bung Karno dan Bu Fatmawati sejak tahun 1955 sampai tahun 1970 memang secara formal masih suami istri tapi tidak pernah “tidur bersama”.

Pernah suatu hari, Bu Fatmawati mengunjungi putra-putrinya: Guntur, Mega, Rahma, Sukma dan Guruh di istana. Begitu senja datang, ia berpamitan kepada Bung Karno.

“Saya pulang dulu, Pak,” katanya.

“Mau kemana? Ini rumahmu, Fat,” jawab Bung Karno.

“Tidak, Pak. Saya mau pulang,” ujar Bu Fatmawati.