Tahun Baru 1435 Hijriah, Berziarah ke Makam Opu Daeng Menambon

Tag

, ,

opu3

Di depan makam Daeng Menambon (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Sudah lama saya absen dari blog ini. Terakhir saya menulis pada 4 November 2012 tentang kunjungan ke Mantan Ketua Mahkamah Islam Tinggi Surakarta. Bukan karena sibuk, semata-mata malas saja.

Ohya, untuk diketahui bahwa terhitung sejak tanggal 18 Oktober 2013 saya beserta istri dan anak hijrah ke Pulau Borneo. Tepatnya di Mempawah, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Saya mohon doa restu semoga saya dapat melaksanakan tugas negara di sini dengan sebaik-baiknya, dan mudah-mudahan saya beserta keluarga senantiasa dalam lindungan Ilahi.

Mengawali tulisan saya di Mempawah, saya ingin menceritakan ziarah saya dan keluarga hari ini ke makam Opu Daeng Menambon. Saya sengaja melakukan ziarah pada hari ini karena bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 1435 H. yang dirayakan sebagai tahun baru Islam.

Makam Daeng Menambon terletak di Sebukit Rama di Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Pontianak. Sekitar 20 km dari Kantor Bupati Pontianak. Kami berangkat sekitar pukul 14.30 WIB. dari rumah (Perumahan Korpri Permai) menuju ke arah Singkawang. Kira-kira di kilometer 10 ada gapura di sebelah kanan bertuliskan “Kawasan Makam Daeng Menambon”. Dari situ, mengikuti jalan lurus sampai di puncak bukit sekitar 10 km. Di kanan-kiri jalan menuju bukit banyak dijumpai pohon sirsak.

opu1

Gapura menuju makam Daeng Menambon (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Sempat muncul was-was ketika memasuki arena bukit. Suasananya sunyi, agak gelap dan tak tampak orang-orang melintas di sekitar tempat itu. “Jangan-jangan di atas sana tak ada kehidupan,” batin saya.

Perasaan was-was segera lenyap setelah sampai di tempat parkir. Kelihatan ada beberapa kendaraan dan orang-orang berjualan. Dari tempat parkir lalu jalan kaki menaiki anak tangga sekitar 200 buah. Di puncak bukit itulah berdiri bangunan tempat bersemayamnya Daeng Menambon. Saya beserta istri dan anak kemudian duduk di dekat makam guna membaca kalimat thoyyibah dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Setelah itu lalu beristirahat sejenak di luar makam sambil melihat-lihat pemandangan alam. Tentu juga berfoto-foto. Selain kami bertiga, tampak juga beberapa orang yang berziarah ke tempat itu.

Kami kemudian menuruni anak tangga. Begitu kami tiba di anak tangga yang penghabisan, hujan turun sangat deras. Kami sempat istirahat beberapa saat menunggu hujan reda. Sekitar pukul 16.30 WIB. hujan berhenti. Kami bergegas meninggalkan bukit dan menuju Terminal Mempawah untuk menikmati pecel lele dan ayam bakar khas Lamongan.

opu5

Anak tangga menuju makam Daeng Menambon (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Siapa Daeng Menambon?

Sebelum berangkat ke Sebukit Rama, saya telah membaca buku “Sejarah Mempawah Tempo Doeloe” karya Ellyas Suryani Soren dan buku “Jejak Sejarah Pangeran Mas Surya Negara atau Upu Alinu Malinu Daeng Menambon” karya Gusti Lahmudin Jia. Kedua buku tersebut saya baca dan pinjam dari Perpustakaan Daerah Kabupaten Pontianak.

Daeng Menambon adalah putra Upu Tandri Borong Daeng Rilekke atau Daeng Rilaga. Kakeknya bernama La Pati Ware Daeng Parabung atau La Madusalat, Raja Luwu yang pertama kali memeluk agama Islam di Tanah Bugis.

Daeng Menambon bukanlah orang Kalimantan asli. Ia berasal dari Sulawesi Selatan. Daeng Menambon dan keempat saudaranya dikenal sebagai pelaut-pelaut yang gagah berani. Mereka meninggalkan kampung halaman untuk merantau mengarungi lautan yang luas melintasi Banjarmasin, Betawi, Johor, Riau, Semenanjung Melayu dan akhirnya sampai di Kerajaan Matan.

Di Matan, Daeng Menambon menikah dengan Putri Kesuma, anak dari Sultan Muhammad Zainuddin (Raja Matan) yang juga cucu dari Panembahan Senggaok (Raja Mempawah). Daeng Menambon tinggal bertahun-tahun bersama mertuanya di Matan. Setelah Muhammad Zainuddin meninggal dunia, Daeng menambon meninggalkan Matan menuju Sebukit Rama. Diperkirakan saat itu tahun 1737.

Di Sebukit Rama itulah Daeng Menambon melanjutkan pemerintahan kakek istrinya, Panembahan Senggaok sebagai Raja Mempawah. Daeng Menambon bergelar Pangeran Mas Surya Negara. Ia dikenal sebagai raja yang sederhana, adil dan bijaksana. Ia dicintai oleh rakyatnya.

Selama berkuasa, ia menerapkan hukum Islam. Selain mengangkat menteri-menteri Kerajaan, ia juga mengangkat khatib, bilal dan ulama sebagai pendamping Raja dalam urusan-urusan agama. Misalnya, untuk menentukan awal Ramadhan atau hari Idul Fitri, Idul Adha dan untuk pernikahan dan perceraian. Walaupun demikian, ia bersikap toleran bagi pemeluk agama lain. Rakyatnya dari Suku Dayak diberi hak untuk menjalankan hukum adatnya sendiri dan diberi kebebasan untuk memilih agama atau kepercayaan masing-masing.

Daeng Menambon mempunyai 10 anak. Salah satunya bernama Utin Chandramidi, istri Sultan Abdurrahman Alkadne (Raja Pertama Kerajaan Pontianak). Ia wafat pada 1763 Masehi dan dimakamkan di Sebukit Raya.

Sowan kepada Mantan Ketua Mahkamah Islam Tinggi Surakarta

Tag

,

Bangunan Bekas MIT Surakarta (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Hari ini Minggu, 4 Nopember 2012, seusai menikmati Solo Car Free Day dengan berolah raga dan sarapan, saya mendatangi bangunan di Jalan Slamet Riyadi Solo No. 308 atau seberang Stadion R Maladi (tempat PON pertama kali di Indonesia tahun 1948). Bangunan itu merupakan bekas  Hof voor Islamietische Zaken atau Mahkamah Islam Tinggi (MIT) Surakarta. Yaitu lembaga peradilan tingkat banding dalam perkara ahwal syakhshiyyah bagi umat Islam yang bertempat tinggal di Jawa dan Madura.

MIT Surakarta berdiri tahun 1937 berdasarkan Staatsblad No. 610 dan beroperasi sampai dibubarkannya tahun 1987. Sejak tahun 1987 didirikan lembaga peradilan tingkat banding di tiap-tiap Propinsi. MIT Surakarta kemudian menjelma menjadi Pengadilan Tinggi Agama (PTA) dan dipindahkan ke Semarang sebagai ibukota Propinsi Jawa Tengah. Bekas bangunannya dialihfungsikan menjadi masjid.

Setelah menelusuri bekas ruang-ruang MIT, mengamati-amati barang-barang antik seperti keramik, kaca dan kayu serta mengambil gambar seperlunya, saya melanjutkan kunjungan ke tokoh yang pernah memimpin bangunan cagar budaya itu. Namanya Drs. H. Thoyib Mangkupranoto.

Mbah Thoyib tinggal di Jalan KH. Samanhudi No. 129 Solo. Jarak rumah beliau dari bekas bangunan MIT sekitar 10 menit dengan motor. Setelah memperkenalkan diri, saya dipersilakan duduk. Beliau begitu senang menyambut kehadiran saya. Kesan saya, Mbah Thoyib betul-betul rojulun thoyib (orang baik). Meskipun usianya sudah 78 tahun, kesehatannya sudah menurun dan bahkan untuk berjalan beliau harus berpegangan tongkat, namun ingatan beliau masih kuat.

Saya sampaikan kepada Mbah Thoyib bahwa saya sengaja bersilaturrahmi kepada beliau sebagai seorang yunior kepada senior dan sebagai newcomer (pendatang baru) kepada orang yang telah berjasa bagi lembaga tempat saya mengabdi sekarang. Meskipun baru kenal dan baru pertama bertemu, saya merasa dekat dengan beliau. Banyak hal yang saya tanyakan, dan beliau pun menjelaskannya dengan penuh semangat. Saya mencatat setiap penjelasan beliau yang memiliki nilai historis. Baca lebih lanjut

Warga Solo Ikhlaskan Kepergian Jokowi

Tag

,

Jokowi

Jokowi di tengah-tengah warga Solo, Minggu, 30 September 2012 (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Senin kemarin, tanggal 1 Oktober 2012, seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Kemarin juga, rakyat Solo harus rela ditinggal pemimpinnya yang sangat dicintai, yaitu Joko Widodo alias Jokowi. Pengusaha mebel itu mengajukan permohonan pengunduran diri sebagai walikota.

Jokowi mengundurkan diri karena telah dinyatakan oleh KPU DKI Jakarta sebagai Gubernur Terpilih pada Pemilukada 2012. Dan direncanakan pada Minggu depan, 7 Oktober 2012 Jokowi akan dilantik sebagai Gubernur DKI, masa jabatan 2012-2017. Baca lebih lanjut

Mengunjungi Museum Radya Pustaka Solo

Tag

,

Museum Radya Pustaka (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Kalau Anda ingin melihat museum tertua di Indonesia, datanglah ke Solo! Museum itu bernama Radya Pustaka, yang didirikan oleh Kanjeng Raden Adipati (KRA) Sosrodiningrat IV, (saat itu Patih Dalem Keraton Surakarta) tanggal 28 Oktober 1890 pada masa Sri Susuhunan Paku Buwono IX.

Kata Radya Pustaka berasal dari “Radya” yang artinya keraton atau negara, dan “Pustaka” yang berarti perpustakaan. Jadi, Radya Pustaka artinya adalah perpustakaan keraton atau perpustakaan negara.

Museum Radya Pustaka saat pertama kali didirikan menempati salah satu ruang di kediaman KRA Sosrodiningrat IV. Kemudian dipindahkan ke tempat sekarang ini yang dahulunya bernama Loh Kadipolo. Bangunan berarsitek Belanda seluas 523,24 m2  itu awalnya milik orang Belanda, Johannes Busselaar, yang dibeli oleh Sri Susuhunan Paku Buwono X dan dijadikan museum pada 1 Januari 1913. Baca lebih lanjut