Tag

,

Baliho Gesang dalam Kenangan

Jumat-Sabtu, 19-20 Mei 2012 di Joglo Sriwedari Solo digelar acara “Gesang Dalam Kenangan” dalam rangka haul Mbah Gesang yang kedua. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Haul berarti peringatan hari wafat seseorang yang diadakan setahun sekali. Orang Jawa menyebutnya “Mendhak”.

Mbah Gesang yang nama lengkapnya Gesang Martohartono lahir di Solo pada 1 Oktober 1917. Beliau meninggal dunia saat berusia 92 tahun pada 20 Mei 2010. Semasa hidupnya, beliau dikenal sebagai penyanyi dan pencipta lagu yang mendapat julukan Maestro Keroncong Indonesia. Mbah Gesang mendunia lewat lagu Bengawan Solo. Lagu itu telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa asing.

Gesang artinya hidup. Karena itu, lagu-lagu yang diciptakan Mbah Gesang berisi semangat untuk maju memuliakan kehidupan. Di antara lagu-lagu ciptaannya adalah Bengawan Solo, Jembatan Merah, Pamitan, Caping Gunung, Ali-ali, Andheng-andheng, Luntur, Dongengan, Saputangan, Dunia Berdamai, Si Piatu, Nusul, Nawala, Roda Dunia, Tembok Besar, Seto Ohashi, Pandanwangi, Impenku, Kalung Mutiara, Pemuda Dewasa, Borobudur, Tirtonadi, Sandhang Pangan dan Kacu-kacu.

Mas Putut sedang melantunkan lagu Bengawan Solo diiringi OK Gita Nada Pati (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Acara “Gesang Dalam Kenangan” dimeriahkan beberapa Orkes Keroncong (OK), antara lain: OK Pesona Swara Prima Temanggung, OK Gita Nada Pati, OK Pamori Surabaya, OK Husana Nada Sragen, OK Tirta Lawu Karanganyar, OK Putra Seniman Solo, OK Bahana Kencana Solo, OK Gema Perjuangan, OK Taruna Kusuma Solo, OK Tunas Kusuma Solo, OK Gandarwo Solo, OK UNISRI Solo, OK Setya Kawan Solo dan lain sebagainya.

Selain pementasan Orkes Keroncong dua malam berturut-turut, digelar juga Pameran Memorabilia Gesang di dekat jembatan penyeberangan kawasan Sriwedari pada saat Car Free Day, Minggu, 20 Mei 2012. Ada 5 foto poster yang dipajang dan sebuah sepeda motor tua milik Mbah Gesang semasa hidupnya.

Monumen Tirta Gesang (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Meskipun bukan pecinta keroncong, saya hadir di Joglo Sriwedari pada Sabtu Malam, 19 Mei 2012 untuk menikmati beberapa lagu keroncong. Kehadiran saya bersama anak dan istri itu lebih karena rasa hormat dan bangga kepada Mbah Gesang, di samping untuk menikmati hiburan dalam suasana malam mingguan di Sriwedari. Keesokan harinya, Minggu, 20 Mei 2012 kami bertiga juga berziarah ke makam Mbah Gesang di TPU Pracimoloyo Makamhaji Kartasura, untuk mendoakan almarhum semoga diampuni segala dosanya, dilipatgandakan amal kebajikannya dan diterima di sisi Allah SWT.

About these ads